18 Tersangka Vaksin Palsu Bakal Dikenai Pasal Pencucian Uang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Polisi Agung Setya (kiri) dan KepalaBiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto menjelaskan tentang penangkapan tersangka pembuat dan penyalur vaksin palsu di Mabes Polri, Jakarta, 23 Juni 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Polisi Agung Setya (kiri) dan KepalaBiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto menjelaskan tentang penangkapan tersangka pembuat dan penyalur vaksin palsu di Mabes Polri, Jakarta, 23 Juni 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan pihaknya segera menyusun pemberkasan terhadap 18 tersangka kasus vaksin palsu. “Ini tiga pemberkasan istilah kami, untuk memudahkan jaksa dalam menyusun tuntutan,” kata Agung di Kementerian Kesehatan, Selasa, 12 Juli 2016.

    Agung menuturkan saat ini tengah memilah semua tersangka untuk dikelompokkan menjadi tiga pemberkasan. Sebanyak 18 tersangka itu akan dibagi ke dalam kelompok satu, dua, dan tiga. Bareskrim belum bisa memastikan kapan pembagian pemberkasan tersebut akan selesai.

    Meski begitu, Agung memastikan bahwa 18 tersangka itu akan fokus dikenakan Undang-Undang Pencucian Uang. Mereka terdiri atas produsen, distributor, dan pegawai pelayanan kesehatan. Menurut dia, pencucian uang yang dilakukan para tersangka bisa berupa pembelanjaan keuntungan dari vaksin palsu untuk membeli mobil, sepeda motor, atau disimpan.

    Terkait jumlah uangnya, Agung menyatakan sampai saat ini masih dalam penyidikan. Nantinya, kata dia, bank akan memberitahukan jumlah uang yang didapat para tersangka. “Menunggu pemberitahuan dari bank,” kata dia.

    Saat ini, Bareskrim telah membekukan sejumlah aset para tersangka kasus peredaran vaksin palsu. Sejumlah aset yang disita, di antaranya, mobil dan motor, serta aset tak bergerak. Hanya saja, penyitaan aset tak bergerak masih menunggu izin dari pengadilan. Tim satuan tugas penanganan vaksin palsu juga membekukan seluruh rekening para tersangka.

    Kasus vaksin palsu bermula dari keluhan masyarakat yang menyatakan anak mereka tetap sakit setelah divaksin. Kepolisian kemudian menindaklanjuti laporan itu. Dari laporan itu, polisi menemukan sejumlah lokasi penjual vaksin palsu. Di antaranya, di apotek AM di Bekasi, Jawa Barat, yang terungkap pada 16 Mei lalu dan apotek Ibnu Sina di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 21 Juni 2016

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.