Bareskrim Temukan 14 Rumah Sakit Swasta Pakai Vaksin Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan saat ini ada 14 rumah sakit yang disinyalir menggunakan vaksin palsu. Menurut dia, penyidikan yang dilakukan terhadap 14 rumah sakit tersebut berkaitan dengan produksi hingga distribusi vaksin palsu.

    Agung memastikan 14 rumah sakit tersebut berstatus swasta. “Yang jelas tidak ada rumah sakit dari pemerintah,” katanya di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Selasa, 12 Juli 2016.

    Agung masih enggan menyebutkan 14 rumah sakit yang disinyalir menggunakan vaksin palsu. Ia juga belum mengungkapkan lokasi rumah sakit tersebut, apakah di Jakarta maupun di luar Ibu Kota. Ia berharap dengan menyodorkan data 14 rumah sakit itu, satuan tugas penanggulangan vaksin palsu bisa memberikan langkah konkret.

    Hingga kini polisi terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam penyidikan rumah sakit yang diduga memakai vaksin palsu. Menurut Agung, ada dua pokok penting dalam temuan 14 rumah sakit itu, yaitu kepentingan kepolisian dalam penyidikan dan keperluan tindakan kemanusiaan yang dilakukan Kementerian Kesehatan.

    Belasan rumah sakit tersebut diduga memperoleh vaksin palsu dari para pelaku. Polisi menduga ada peran distributor sehingga vaksin palsu sampai di tangan ke-14 rumah sakit itu. Namun hingga saat ini Bareskrim baru menetapkan 18 orang sebagai tersangka kasus vaksin palsu.

    Direktur Pengawasan Distribusi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Arustiono mengatakan telah menelusuri dugaan adanya vaksin palsu di sembilan wilayah di Indonesia, yaitu Pekanbaru, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pangkal Pinang, dan Batam. Ia mengatakan ada 39 sampel jenis vaksin yang diambil dari 37 titik fasilitas layanan kesehatan yang tersebar di wilayah tersebut.

    Dalam pengujian 39 jenis sampel itu hanya ditemukan empat sampel yang terbukti vaksin palsu. Arustiono menjelaskan sampel-sampel tersebut terbukti palsu karena vaksin hanya mengandung natrium klorida (NaCL) atau garam. Selain itu ada pula vaksin yang di dalamnya hanya berupa antigen atau perangsang respons kekebalan tubuh.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.