Kisah Idul Fitri Tyas, Berlebaran Sunyi di Hutan Rimba

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswaningtyas saat bertugas di Baduy Dalam, Jawa Barat. Dok. Pribadi

    Siswaningtyas saat bertugas di Baduy Dalam, Jawa Barat. Dok. Pribadi

    TEMPO.CO, Jakarta - DERIT pepohonan memecah sunyi di belantara hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Bersahut-sahutan dengan kerik jangkrik, siulan burung hantu, dan suara beruang hutan yang mirip tangis bayi. Di antara bebunyian dan secercah cahaya dari lampu teplok di sesudungon -- pondok tempat tinggal orang rimba -- itu, Siswaningtyas Tri Nugraheni harus menghabiskan malam takbiran pada Agustus 2012.

    Tyas -- sapaan Siswaningtyas -- adalah aktivis lingkungan di Komunitas Konservasi Indonesia Warsi sejak 2008. Tugasnya memberdayakan penduduk asli di sekitar kawasan taman nasional agar merawat lingkungan mereka. Gairah itu yang membawa Tyas menikmati Idul Fitri di tengah jenggala, empat tahun lalu . “Terasa aneh karena kelewat sepi dan tak mungkin menjumpai tabuh dan seruan takbir,” ia berujar, Selasa akhir Juni lalu kepada Tempo.

    Menurut Tyas, kesepian malam takbiran di rimba cukup beralasan. Maklum lokasi tinggalnya nun jauh di sana, di mana Desa Bukit Suban -- desa transmigrasi terdekat -- berjarak tiga jam ditempuh dengan berjalan kaki. Pun sekitar 1.800 orang rimba yang tinggal bersamanya di pedalaman Jambi adalah penganut animisme dan dinamisme.

    Namun, suasana malam takbiran yang sepi sontak berubah pada Idul Fitri pagi harinya. Menurut Tyas, puluhan anak dan remaja rimba berbondong-bondong datang ke pondoknya. Mereka membawa oleh-oleh berupa buah tampui -- mirip buah manggis tapi warnanya jingga -- dan kudukuya -- buah lokal dari hutan Jambi yang rasanya mirip rambutan. Tak ketinggalan, anak-anak rimba itu mengucapkan selamat hari raya. “Itu kejutan bagi saya di hari Lebaran,” kata lulusan Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu.

    Lebaran Tyas di rimba makin meriah lantaran Tumenggung Grip, sang kepala suku, memberinya lemang sebagai ‘bingkisan’ Lebaran. Kata Tyas, menirukan ucapan Tumenggug Grip, makanan itu dimasak karena orang rimba tahu dirinya merayakan hari besar keagamaan. Lemang berbahan dasar durian itu baru tandas berselang sebulan setelah Lebaran karena ukurannya yang amat gigantik.

    Tahun ini Tyas menikmati kehangatan Idul Fitri bersama famili di Jepara, Jawa Tengah. “Lebaran bersama keluarga maupun orang rimba sama-sama hangat dan nikmat,” tuturnya.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.