Bom Ramadan, ICMI Minta Tokoh Agama Bangun Perdamaian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) Jimly Assidiqie menyampaikan sambutan pada seminar DKPP Outlook 2016 di Jakarta, 28 Desember 2015. ANTARA FOTO

    Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) Jimly Assidiqie menyampaikan sambutan pada seminar DKPP Outlook 2016 di Jakarta, 28 Desember 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menggelar open house di rumahnya di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dia berpesan agar momen Idul Fitri menjadi upaya membangun perdamaian bangsa.

    Untuk itu, Jimly yang juga Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ini, berpesan kepada semua pihak untuk menguatkan persatuan dalam upaya mencegah tindakan kekerasan seperti teror. Ia meminta semua tokoh agama baik muslim maupun non muslim untuk berada dalam satu pemahaman mengenai terorisme.

    “Jangan pernah mempersepsikan kejadian-kejadian bom itu ada kaitan dengan orang Islam, enggak, itu bukan orang Islam,” kata Jimly, Kamis, 7 Juli 2016.

    Jimly mengecam tindakan bom bunuh diri yang terjadi di Polresta Surakarta, 5 Juli 2016. Menurut dia, tindakan itu harus dijadikan musuh bersama bagi seluruh agama, terlebih Islam yang kukuh mengajarkan perdamaian.

    Perihal keterlibatan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam serangan bom itu, Jimly secara tegas menyebutkan bahwa mereka bukan Islam. Sebab, ISIS dibentuk dengan motif kekuasaan.

    Dalam acara open house yang dijadwalkan hingga sore, tampak Jimly menemui dan menyapa hangat para tamu yang hadir. Barisan tetamu mengular hendak bersilaturahmi dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.