Mau Tangkal ISIS, Jimly: Cabut Semua Paspor ke Suriah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, Jimly Asshiddiqie. TEMPO/Dasril Roszandi

    Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, Jimly Asshiddiqie. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan pemerintah harus bersikap tegas terhadap semua warga negara Indonesia yang akan pergi ke Suriah. Terlebih apabila orang tersebut diduga pergi ke Suriah untuk berperang.

    “Cabut saja itu paspor,” kata dia di rumahnya di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Juli 2016.

    Menurut Jimly, upaya ketegasan pemerintah dengan mencabut paspor bagi orang yang akan pergi ke Suriah bisa menjadi cara mencegah warga negara Indonesia bergabung dengan Negara Islam Irak Suriah (ISIS). Pemerintah tidak perlu membuat peraturan terlebih dulu mengenai larangan pergi ke Suriah. Namun dengan pencabutan langsung paspor mereka bisa lebih efektif.

    Jimly mengatakan pencabutan paspor bukan berarti mencederai keadilan bagi warga negara Indonesia. Para pemilik paspor bisa membuktikan di pengadilan apabila memang tujuan pergi ke Suriah bukan untuk berperang. “Beri kesempatan pengadilan untuk berinovasi,” kata dia.

    Jimly memastikan bahwa hakim di Indonesia tidak bisa menolak perkara. Termasuk juga perkara paspor bagi semua warga negara yang hendak pergi ke Suriah. Untuk warga negara juga dipastikan mendapat hak membela diri di pengadilan.

    Jimly pun mengecam tindakan terorisme bom bunuh diri yang terjadi di Polresta Surakarta 5 Juli 2016. Tindakan itu tidak bisa dibenarkan dalam ajaran agama apapun. Ia menilai tindakan terorisme yang terjadi di Surakarta sangat tidak menusiawi.

    “Kami mengutuk terjadinya itu, justru merusak Idul Fitri,” kata dia.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.