Bom di Solo, Ini Respons Polda Jawa Timur dan Polda DIY  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana lokasi ledakan bom bunuh diri di di Mapolres Solo, Jawa Tengah, 5 Juli 2016. istimewa

    Suasana lokasi ledakan bom bunuh diri di di Mapolres Solo, Jawa Tengah, 5 Juli 2016. istimewa

    TEMPO.COSurabaya - Bom bunuh diri di kantor Kepolisian Resor Kota Surakarta, Jawa Tengah, tidak membuat Kepolisian Daerah Jawa Timur menambah pasukan untuk pengamanan selama libur Lebaran. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, pengamanan di Jawa Timur masih tergolong normal.

    "Kami belum berniat menambah pasukan," kata Argo saat ditemui di kantornya, Selasa, 5 Juli 2016. Argo menjelaskan, Polda Jawa Timur menyiapkan 12.197 personel untuk operasi Ramadniya dan Idul Fitri 1437 Hijriah. Jumlah pasukan itu sudah disiapkan sejak apel pasukan operasi Ramadniya Semeru pada 29 Juni 2016. "Belum ditambah lagi." 

    Bom bunuh diri di kantor Polresta Surabaya terjadi sekitar pukul 07.30. Pelaku mengendarai sepeda motor matic. Saat masuk Markas Polresta, pelaku tidak melapor di pos jaga, tapi menyelonong menuju ruang Sentra Pelayanan. 

    Di tempat ini, pelaku ditegur Brigadir Bambang Adi, petugas dari Sentra Pelayanan. Teguran itu dijawab dengan ledakan bom dari badan pelaku. Pelaku tewas di tempat. Sedangkan Bambang mengalami luka dan dilarikan ke Rumah Sakit Panti Waluyo, Solo.

    Berbeda dengan Jawa Timur, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta memperketat pengamanan di wilayahnya setelah bom meledak di Solo. "Penjagaan sudah ada. Namun, menyusul bom Surakarta, intensitas pengamanan akan terus ditingkatkan, khususnya di markas komando smua polres di DIY," ujar Kepala Bidang Humas Polda DIY AKBP Anny Pudjiastuti di Yogyakarta, Selasa.

    Menurut Anny, sesuai perintah Kapolda DIY, selain markas kepolisian, pengetatan pengamanan juga dilakukan di pusat belanja atau mal, terminal, stasiun kereta, serta tempat wisata. "Pengamanannya semakin kami perketat," tuturnya.

    Anny mengklaim intensitas pengamanan sudah cukup diperketat sejak pemberlakuan status siaga 1 sejak 30 Juni 2016 disertai dengan pemberlakuan operasi Ramadniya Progo 2016. "Penyebaran kekuatan 2/3 personel kepolisian sebenarnya juga sudah kami siapkan hingga status siaga 1 dicabut," ucap Anny.

    EDWIN FAJERIAL | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.