KPK Tetapkan 3 Tersangka Suap Panitera PN Jakarta Pusat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan sedang menjelaskan tentang kronologi Operasi Tangkap Tangan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara Rohadi yang diduga menerima suap dari Saipul Jamil

    Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan sedang menjelaskan tentang kronologi Operasi Tangkap Tangan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara Rohadi yang diduga menerima suap dari Saipul Jamil

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan suap terhadap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tiga tersangka tersebut adalah panitera pengganti PN Jakarta Pusat, Muhammad Santoso; anggota staf kantor konsultan hukum WK, Ahmad Yani; serta pengacara PT PT Kapuas Tunggal Persada, Raoul Adhitya Wiranatakusumah.

    Santoso disangka sebagai penerima suap, sementara Ahmad Yani dan Raoul sebagai pemberi suap. Kasus suap ini diduga terkait dengan perkara perdata antara PT Kapuas Tunggal Persada dan PT Mitra Maju Sukses yang perkaranya bergulir di PN Jakarta Pusat.

    "Tujuan RAW sebagai penasihat hukum PT KTP adalah ingin memenangi perkara di antara dua perusahaan," kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan di kantornya, Jumat, 1 Juli 2016.

    Basaria berujar, PT Kapuas sebagai perusahaan sumber daya alam digugat PT Mitra Maju Sukses. Tapi, untuk memenangi gugatan di pengadilan, Raoul diduga telah menyuap Santoso.

    Perkara suap itu terungkap dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada Kamis malam kemarin. KPK mencokok Santoso dan Yani di lokasi yang berbeda di Jakarta.

    Basaria menceritakan kronologi penangkapan ketiganya. Pada pukul 18.00 WIB, ucap Basaria, tim penyidik KPK memantau tempat yang digunakan sebagai lokasi serah-terima uang antara Ahmad Yani dan Santoso. Sekitar 20 menit kemudian, tim KPK mengejar Santoso sampai Matraman.

    "Santoso ditangkap di atas ojek," tutur Basaria. Lalu, kata dia, penyidik KPK membawa Santoso dan tukang ojek berinisial B ke KPK. Sedangkan Yani ditangkap di Menteng, Jakarta Pusat.

    Dari tangan Santoso, penyidik menemukan kantong berisi dua amplop cokelat. Masing-masing amplop tersebut berisi uang sebesar 25 ribu dolar Singapura dan 3.000 dolar Singapura.

    Akibat perbuatannya, Santoso dijerat Pasal 12 huruf a, b, atau c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Sedangkan Yani dan Raoul dijerat Pasal 6 ayat 1 huruf a, Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b, dan Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

    April lalu, KPK juga mencokok seorang panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution, dalam kasus suap terkait dengan perkara yang sedang bergulir di pengadilan. Edy pun dijadikan tersangka penerima suap. Penyuap Edy, Doddy Arianto Supeno, karyawan swasta, juga dijadikan tersangka.

    MAYA AYU PUSPITASARI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.