Angkutan Gelap di Semarang Berpotensi Rugikan Pemudik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angkutan Lebaran/TEMPO/ Adri Irianto

    Angkutan Lebaran/TEMPO/ Adri Irianto

    TEMPO.CO, Semarang - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengingatkan agar pemudik mewaspadai angkutan gelap atau kendaraan berpelat hitam yang berpotensi merugikan penumpang. “Yang perlu diperhatikan, mobil pelat hitam yang meresahkan penumpang. Sering kejadian, ketika penumpang minta diantar di Demak, ternyata sampai di Terboyo disuruh turun,” kata dia saat meninjau Stasiun Poncol, Semarang, Jumat, 1 Juli 2016.

    Meski mengingatkan, Hendrar menjamin keamanan di sejumlah titik keramaian arus mudik dan balik di Semarang. Kepastian itu diberikan setelah memantau di Stasiun Poncol dan Tawang, serta Pelabuhan Tanjung Emas. “Tingkat kriminalitas di stasiun dan pelabuhan nihil. Ini salah satu bentuk kesadaran para calon penumpang untuk mawas diri,” kata dia. Menurut dia, lonjakan penumpang di masing-masing titik mencapai 70-80 persen dan belum ada laporan tindakan kriminal.

    Kepala Satuan Operasional Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Victor Viki Subroto, menyatakan Pelabuhan Tanjung Emas memberikan angkutan gratis yang bersinergi antara Pelindo, Pelni, dan Damri. “Kami menyediakan jasa bus untuk mengantar penumpang kapal dari Pelni ke beberapa daerah di Jawa Tengah,” kata dia.

    Victor memperkirakan puncak arus mudik terjadi pada H-2 Lebaran. “Sedangkan saat ini lebih dari 19 ribu penumpang turun di Tanjung Emas dan 3.000 pemudik berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas,” katanya.

    Menurut dia, penumpang yang mudik lewat Pelabuhan Tanjung Emas berasal dari Kalimantan. Jumlah mereka mencapai lebih dari 40 ribu orang. Pengelola Pelabuhan Tanjung Emas mengantisipasi rob dengan menyediakan lebih dari 20 pompa berkapasitas 300 liter per detik. “Kami sudah siapkan pompa, mengantisipasi ketika air laut naik di peron Pelabuhan Tanjung Emas,” kata dia.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.