Terpidana Bom Bali Ali Imron Ceramah Soal Terorisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana kasus bom Bali, Ali Imron saat menjadi pembicara dalam seminar Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur 25 April 2016. Seminar bertema Kontra Radikal dan Deradikalisasi Demi Mencegah Instabilitas dan Menjaga Keutuhan NKRI dari Ancaman Terorisme. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Terpidana kasus bom Bali, Ali Imron saat menjadi pembicara dalam seminar Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur 25 April 2016. Seminar bertema Kontra Radikal dan Deradikalisasi Demi Mencegah Instabilitas dan Menjaga Keutuhan NKRI dari Ancaman Terorisme. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Terpidana kasus bom Bali pertama, Ali Imron, berdakwah di hadapan ratusan jemaah masjid Al Fataa di Menteng, Jakarta Pusat. Ia menyampaikan beberapa pesan untuk para jemaah perihal radikalisme yang saat ini masih hangat di Indonesia.

    Ali menyampaikan pentingnya bagi masyarakat memahami paham teroris dan latar belakang dalam tindakan teror yang dilakukan. “Tujuannya apa, ciri-cirinya apa, baru nanti bersama-sama menanggulangi dan mencegah,” katanya di Jakarta, Selasa, 28 Juni 2016.

    Menurut Ali, ciri-ciri teroris bisa dikategorikan berdasarkan dua hal, yaitu ingin mendirikan negara Islam dan berdasarkan pemahaman takfiri atau yang sekarang sebagai pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dua kategori itu bisa dikerucutkan menjadi satu sebagai ciri-ciri teroris, yaitu orang yang berbeda dengan masyarakat lain.

    Ali menyebutkan bahwa teroris adalah orang yang membenci Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. “Kalau benci pegawai negeri, menteri, presiden, itu di antaranya,” katanya.

    Menurut Ali, teroris berkeinginan mendirikan negara Islam pada akhirnya. Namun dalam jangka pendek, teroris bergerak dengan melakukan tindakan radikal. Salah satunya adalah yang terjadi pada bom Thamrin beberapa waktu lalu.

    Meski begitu, Ali mengaku masih bercita-cita mendirikan negara Islam. Namun, ia mengatakan cara yang ditempuh bukan merugikan seluruh umat. Ia mengkritik cara-cara yang dilakukan seperti pengeboman di Jalan M.H. Thamrin, Januari lalu. “Tapi yang tidak benar itu melakukan tindakan yang menurut Islam enggak benar, itu yang saya koreksi,” katanya.

    Saat ini Ali masih berstatus sebagai terpidana seumur hidup. Sembari menjalani masa tahanan, ia mengatakan sering menulis artikel mengenai paham radikal untuk memberi pencerahan kepada masyarakat. Hari ini, ia bersama Wahid Institute menggelar dakwah yang mengusung perdamaian di Indonesia. Ia berharap acara dakwah ini bisa secara rutin dilakukan agar masyarakat memahami arti teroris dan mampu memerangi bersama.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.