Buka Puasa dengan Ormas Islam, JK Jadi Moderator  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (kiri) berbincang dengan Jaksa Agung M. Prasetyo, dalam buka puasa bersama di gedung Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem, Jakarta, 7 Juni 2016. Acara ini juga mendoakan agar dalam pemerintahan Jokowi-JK agar selalu bersama-sama memimpin tanah air Indonesia dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat untuk mencapai kejayaan negara.TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (kiri) berbincang dengan Jaksa Agung M. Prasetyo, dalam buka puasa bersama di gedung Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem, Jakarta, 7 Juni 2016. Acara ini juga mendoakan agar dalam pemerintahan Jokowi-JK agar selalu bersama-sama memimpin tanah air Indonesia dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat untuk mencapai kejayaan negara.TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada pemandangan berbeda dalam acara buka puasa bersama di Istana Wakil Presiden yang mengundang organisasi massa Islam, Majelis Ulama Indonesia, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Selasa, 28 Juni 2016.

    Di hadapan hadirin, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan ada banyak ulama yang bisa ditunjuk menjadi penceramah sebelum waktu berbuka puasa.

    Oleh sebab itu, Kalla memilih menjadi moderator. Dengan pembawaan santai, Kalla membuka pertemuan dengan membahas kondisi umat Islam di Indonesia. "Ada dua hal yang bisa dibanggakan dari Islam di Indonesia, yaitu jumlah yang besar dan toleran," ucapnya.

    Menurut Kalla, sudah saatnya umat Islam di Indonesia melakukan sesuatu yang lebih dari dua hal itu. Ia mencontohkan ulama asal India, profesor Zakir Naek. Dia lantang membela Islam di tengah masyarakat dunia yang tidak sedikit mengalami Islamophobia. "Apa yang bisa kita lakukan? Silakan MUI jelaskan," katanya.

    Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin menilai tantangan umat Islam di Indonesia saat ini ialah bersatu. Menurut dia, perbedaan yang ada di masyarakat mesti dipelihara. Namun untuk urusan strategis umat, semua harus bersatu.

    Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie yang ikut memberikan ceramah menyambut baik suasana cair yang dibangun JK. Jimly, yang diminta Kalla menjelaskan tentang bagaimana menciptakan ulama internasional asal Indonesia, mengatakan umat Islam di Indonesia mesti siap menerima perbedaan, khususnya dalam hal kepemimpinan.

    Selain itu, umat Islam juga diminta untuk mengubah metode berdakwah. Jimly menyatakan sudah saatnya para pemimpin organisasi massa Islam mendengarkan jemaah. "Kita ini kurang bersatu secara formal," kata Jimly.

    Di tengah acara JK tak sungkan melemparkan candaan-candaan yang mencairkan suasana. Salah satunya ialah ketika menjelaskan perbedaan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dari sisi manajemen.

    Menurut JK, Muhammadiyah diibaratkan sebuah perusahaan atau holding company yang mempunyai direktur dan manajer. "Sementara NU itu seperti franchise. Ada di mana-mana," ucapnya yang disambut gelak tawa hadirin.

    Di ujung acara, JK kembali mengingatkan kepada umat Islam agar bersatu dan bisa memberikan kontribusi bagi negara. Selain Ma'ruf Amin dan Jimly Asshiddiqie, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas diminta juga memberikan pandangannya. Ia menuturkan sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah sudah lama memberi kontribusi bagi negara di sektor pendidikan dengan cara mendirikan madrasah.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.