Risma Lawan Ahok, Kompetisi Pilgub DKI Bakal Ketat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kampung Guji Baru RT 04 RW 02 Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta mendeklarasikan Tri Rismaharini sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Mereka menyebut diri sebagai Baris, Barisan Risma, Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Akmal Ihsan

    Warga Kampung Guji Baru RT 04 RW 02 Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta mendeklarasikan Tri Rismaharini sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Mereka menyebut diri sebagai Baris, Barisan Risma, Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Akmal Ihsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akan masuk bursa calon gubernur pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 semakin berembus kencang.  Sebagian warga Jakarta pun sudah mendeklarasikan dukungan. Dari sepak terjangnya di Surabaya, sosok Risma dianggap layak memimpin Jakarta.

    “Pilkada yang berkualitas tak dilihat hanya dari penyelenggaranya, tapi juga para pesertanya. Kompetisi itu harus mampu menghadirkan lawan tanding yang setara,” ujar pakar otonomi daerah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, saat dihubungi Tempo, Senin, 27 Juni 2016.

    Menurut Siti, Risma sangat relevan dengan sifat pilkada yang demikian. Siti menilai Risma mampu bersaing dengan gubernur inkumben. Partai politik yang mengusung Risma ke pilkada DKI, kata dia, akan mendapat keuntungan.

    “Bukan hanya karena karakter kepemimpinannya, sejumlah kebijakannya banyak mendapat apresiasi dari banyak kalangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.

    Jika Risma bisa dihadapkan dengan Ahok, ujar Siti, pilkada DKI 2017 akan menjadi kompetisi best among the best. “Dalam konteks itu, pencalonan Risma sangat relevan untuk difinalkan.”

    Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengatakan elektabilitas Ahok saat ini masih lebih tinggi dibanding sosok lain, termasuk Risma. “Tapi akan ada perbedaan jika Risma menyatakan diri maju menjadi cagub,” katanya saat dihubungi, Senin.

    Menurut Yunarto, tingkat elektabilitas seorang calon cenderung berubah jika sudah resmi maju. “Contohnya Yusril Ihza Mahendra, elektabilitasnya berbeda antara belum dan sudah (menyatakan diri maju). Perlahan meningkat meski belum mendapat dukungan partai.”

    Dia memandang faktor mesin politik bisa menjadi alasan ketatnya persaingan merebutkan kursi DKI 1. Hal itu terjadi bila Risma didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “Ini akan jadi persaingan dua kekuatan besar di Jakarta, antara calon dengan elektabilitas tertinggi (Ahok) dan partai dengan elektabilitas tertinggi (PDIP) berdasarkan survei.”

    Namun, Yunarto melihat PDIP belum menunjukkan sinyal akan mendukung Risma. “Saya melihat mereka masih dalam persoalan akan mendukung Ahok atau tidak. Belum ada pernyataan soal Risma.”

    Dukungan terhadap Risma sudah muncul dari sejumlah elemen masyarakat di Jakarta. Jumat lalu, warga Kampung Guji Baru, Duri Kepa, Jakarta Barat, sudah mendeklarasikan dukungan.

    Dukungan pun datang dari para relawan Joko Widodo. Sebanyak 17 dari 23 organisasi relawan Jokowi merekomendasikan Risma untuk memimpin DKI. Risma dinilai sebagai sosok yang mampu mengedepankan dialog secara humanis untuk menyelesaikan masalah Jakarta.

    Dukungan itu mereka nyatakan seusai konsolidasi pada 22 Juni lalu. Rekomendasi itu ditujukan pada sejumlah partai besar, salah satunya PDIP yang memenangkan Jokowi pada pemilu presiden 2014.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.