CSIS: Tandingi Ahok, PDIP Harus Usung Calon dari Daerah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawati Soekarno Putri berjalan bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini Rismaharini dan Gubernur DKI Joko Widodo di Gedung VIP Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, (1/3). Kedatangan Megawati untuk meredakan hubungan panas antara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Walikota yang juga kader PDI Perjuangan, Wisnu Sakti Buana. TEMPO/Fully Syafi

    Megawati Soekarno Putri berjalan bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini Rismaharini dan Gubernur DKI Joko Widodo di Gedung VIP Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, (1/3). Kedatangan Megawati untuk meredakan hubungan panas antara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Wakil Walikota yang juga kader PDI Perjuangan, Wisnu Sakti Buana. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta bisa mempengaruhi kondisi politik.  

    "Prediksi saya, keputusan PDIP mempengaruhi preferensi pemilih, pola koalisi, dan komposisi pasangan," kata Arya dalam diskusi “Mencari Pemimpin yang Tepat untuk DKI” di Gereja Yohanes Penginjil, Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2016.  

    Menurut Arya, posisi PDIP saat ini masih kuat di kancah perpolitikan nasional, termasuk di Jakarta. Dalam survei yang digulirkan CSIS pada Januari 2016, posisi elektabilitas PDIP masih cukup tinggi. Ia berujar, 21 persen pemilih di Indonesia mengaku masih akan memilih PDIP.  

    Arya menjelaskan, partai-partai besar seperti PDIP sebaiknya segera mengumumkan calon yang akan diusung dalam pilkada DKI pada 2017. Menurut dia, apabila partai menunda mengumumkan calon yang diusung, hal itu akan merugikan publik. Pemilih tidak memiliki calon alternatif untuk dipilih. Selain itu, penundaan akan memberi kandidat merancang dalam strategi kampanye.  

    Arya menilai PDIP mampu mengusung calon terbaik dari daerah. Ia menilai, untuk melawan calon inkumben pada pilkada DKI, yaitu Basuki Tjahaja Purnama, PDIP harus memilih calon yang bisa menandingi. Menurut survei yang telah dilakukan CSIS pada Januari lalu, elektabilitas Ahok sekitar 43 persen. Sedangakan pada bulan-bulan terakhir, kata dia, elektabilitas calon inkumben itu 45-50 persen.  

    Arya menilai prediksinya bisa diulang PDIP pada pilkada DKI nanti. Ia berujar, pada 2012, saat Fauzi Bowo maju dalam pilkada DKI, tidak ada calon yang mampu menandingi. Namun PDIP menarik Wali Kota Solo Joko Widodo untuk maju dan akhirnya memenangi pilkada DKI.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.