Apa Motif Golkar Calonkan Ahok?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Ahok, berbincang dengan politikus Golkar Yorrys Raweyai, usai menerima secara resmi dukungan partai golkar di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Ahok, berbincang dengan politikus Golkar Yorrys Raweyai, usai menerima secara resmi dukungan partai golkar di Kantor DPD Partai Golkar DKI Jakarta, 24 Juni 2016. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Terbitnya surat dukungan Partai Golongan Karya untuk Basuki Tjahaja Purnama kian memanaskan peta politik pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017. Dengan masuknya Golkar, Basuki alias Ahok mengantongi dukungan tiga partai, karena sebelumnya ia sudah mendapatkan sokongan dari Partai NasDem dan Partai Hati Nurani Rakyat.

    Penggabungan tiga partai itu menghasilkan 24 kursi perwakilan di parlemen, cukup untuk mengusung satu calon. Artinya, Ahok sudah bisa maju lewat partai, tak lagi dari jalur independen dengan dukungan Teman Ahok melalui pengumpulan satu juta kartu tanda penduduk. Sejauh ini, Ahok belum memutuskan jalur mana yang akan dipilih.

    SIMAK:
    Mau Golkar kepada Ahok: Kami Cuma Minta Satu...

    Apa sebenarnya alasan Golkar mendukung Ahok dalam pilkada DKI 2017? Pelaksana tugas Ketua DPD Yorrys Raweyai mengatakan ada strategi khusus di balik dukungan untuk Ahok. Sebanyak sejuta orang yang telah menyerahkan KTP dukungannya lewat Teman Ahok berpotensi menjadi pemilih Golkar dalam pemilihan 2019.

    "Mereka tidak mau sekarang pilih partai. Tapi mereka akan menggunakan hak pilih dalam pemilu legislatif 2019. Kalau kami bisa merangkul sejuta orang ini, siapa tahu mudah-mudahan mereka bisa pilih Golkar," ucap Yorrys. Golkar yakin bisa menduduki tiga besar perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI pada 2019. Saat ini Golkar ada di peringkat ketujuh dengan perolehan sembilan kursi.

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menuturkan dukungan partai terhadap calon perseorangan memang tidak lazim, apalagi Golkar punya sejarah panjang memenangi pemilihan dari masa ke masa dengan kader sendiri. "Sepanjang calon yang diajukan itu inkumben, kinerja dan elektabilitas bagus, tidak ada alasan pengurus pusat menolak," ucap Idrus.

    Ahok sendiri mengatakan, soal diusung partai, ia menyatakan masih perlu bicara dengan Teman Ahok. "Saya ikut yang terbaik saja," ujarnya.

    SIMAK:
    Basuki Didukung Golkar, Teman Ahok Fokus di Jalur Independen

    Pilkada DKI, Ical Ingin Ahok Maju Lewat Partai 

    Teman Ahok telah mengumpulkan sejuta dukungan. Bila memilih jalur independen, ia sebenarnya akan kesusahan karena harus menandatangani puluhan ribu meterai sebagai bukti dukungan. Belum lagi adanya aturan verifikasi faktual yang dinilai akan memberatkannya lolos sebagai calon independen.

    Sebaliknya, ia merasa dimudahkan bila menempuh jalur partai karena cukup menandatangani tiga meterai. "Tapi mau ikut partai atau enggak, tetap paket Ahok-Heru," ujarnya. "Tinggal Anda mau tempuh jalan susah atau jalan mudah."

    FRISKI RIANA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.