Volume Sampah di Bandung Meningkat Tajam Selama Ramadan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemulung sampah plastik mendayung perahunya dan berusaha menembus lautan sampah kiriman dari kota yang terbawa arus banjir di muara Sungai Cikapundung dan Citarum di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 28 Februari 2016. TEMPO/Prima Mulia

    Pemulung sampah plastik mendayung perahunya dan berusaha menembus lautan sampah kiriman dari kota yang terbawa arus banjir di muara Sungai Cikapundung dan Citarum di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 28 Februari 2016. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Direktur Utama Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdyana mengatakan volume sampah di Bandung meningkat signifikan selama Ramadan tahun ini. Uniknya, sampah tersebut terbagi dalam dua waktu berbeda.

    Pada awal Ramadan, sampah yang meningkat adalah sampah organik. "Dua minggu pertama, sampah organik naik 20 persen," ucap Deni saat ditemui di Jalan Anggrek, Kota Bandung, Jumat malam, 24 Juni 2016.

    Naiknya jumlah sampah organik pada awal Ramadan yang bertepatan pada awal Juni 2016 karena pola makan masyarakat meningkat. Pasalnya, ujar Deni, masyarakat sering mengadakan buka puasa bersama.

    Kondisi berbeda ditunjukkan pada dua minggu terakhir Ramadan. Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah sampah yang meningkat justru sampah anorganik. "Trennya dua minggu terakhir justru terbalik. Sampah anorganik naik 40 persen," tuturnya.

    Menjelang akhir Ramadan ini, kata dia, masyarakat sudah mengurangi kegiatan buka puasa bersama dan lebih konsumtif pada barang-barang jadi untuk belanja kebutuhan Idul Fitri. "Masyarakat belanja di PKL (pedagang kaki lima) itu kan banyak plastik," ucapnya.

    Deni menjelaskan, setiap hari di luar Ramadan, Kota Bandung menghasilkan 1.500 ton sampah. Sekitar 65 persennya sampah organik.

    PUTRA PRIMA PERDANA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.