Menteri Luhut Benarkan Penculikan 7 Awak Kapal Charles  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua kapal cepat milik pasukan khusus Filipina melaju kencang, untuk mencari sejumlah wisatawan yang diculik oleh kelompok bersenjata. Sejumlah turis tersebut telah menjadi target penculikan para kelompok bersenjata. Davao del Norte, Filipina, 24 September 2015. Jeoffrey Maitem / Getty Images

    Dua kapal cepat milik pasukan khusus Filipina melaju kencang, untuk mencari sejumlah wisatawan yang diculik oleh kelompok bersenjata. Sejumlah turis tersebut telah menjadi target penculikan para kelompok bersenjata. Davao del Norte, Filipina, 24 September 2015. Jeoffrey Maitem / Getty Images

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membenarkan kabar terjadinya penyanderaan terhadap tujuh warga negara Indonesia yang diduga dilakukan kelompok militan Abu Sayyaf. Para WNI tersebut adalah anak buah kapal tarik (tug boat) Charles milik PT Rusianto Bersaudara yang berlayar dari Samarinda, Kalimantan Timur, pada awal Juni lalu. 

    "Ya benar, kira-kira begitu. Ada tujuh orang dari 13 orang di kapal," ujar Luhut di depan kantornya, Kamis, 23 Juni 2016. Luhut menyebutkan kepastian kabar tersebut didapat dari Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara, dan Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. 

    Namun Luhut belum bisa menjelaskan lebih jauh peristiwa yang terjadi di perairan Filipina itu, terlebih soal penyanderanya yang diduga berasal dari pihak Abu Sayyaf. Kabar ini pun sempat diragukan kebenarannya.

    Kabar tersebut malah sempat dibantah Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Rabu kemarin. Gatot dengan tegas mengatakan kabar itu tidak benar karena dia sudah mengerahkan tim untuk menelusurinya. Salah satu alasannya adalah sumber penelepon saat dilacak berlokasi di Jakarta dan Bandung.

    Luhut memastikan pemerintah akan mencari kejelasan kabar yang berawal dari kesaksian istri salah satu WNI yang disandera tersebut. "Karena ini beritanya naik-turun, kan. Terus terang saya ingin dalami."

    Adapun Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memilih menunda penjelasan isu tersebut hingga Jumat. "Besok (hari ini) baru Kemlu akan memberikan pernyataan (terkait dengan penyanderaan tersebut)," kata Retno kepada Tempo lewat pesan WhatsApp, Kamis malam.

    Kabar itu berawal dari kesaksian Dian Megawati Ahmad, istri salah satu ABK kapal Charles bernama Ismail. Dia mengaku sempat ditelepon suaminya yang meminta agar pesan penyandera disampaikan ke pihak perusahaan kapal. Salah satunya menyampaikan tuntutan tebusan hingga 20 juta ringgit.

    Kapal Charles berbendera Indonesia itu berlayar ke Filipina pada awal Juni 2016 dengan misi membawa batu bara. Di atas kapal terdapat 13 awak. Kapal itu dijadwalkan kembali ke Samarinda pada Jumat atau Sabtu besok. 

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.