JK: Tak Ada Penyanderaan 7 WNI oleh Abu Sayyaf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tidak ada penyanderaan terhadap tujuh warga negara Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf. "Enggak ada penyanderaan," kata Kalla di Jakarta Convention Center, Kamis, 23 Juni 2016.

    Sebelumnya, tujuh WNI anak buah kapal Charles milik PT Rudiyanto Bersaudara dikabarkan menjadi sandera kelompok militan Abu Sayyaf. Informasi itu tersebar, Rabu. Mereka tercatat sebagai ABK senior yang membawa kapal tarik Charles.

    Kabar penyanderan awalnya diketahui Dian Megawati Ahmad, 33 tahun, istri dari Mualim I kapal tersebut yang bernama Ismail. Ismail menggunakan nomor telepon lain menghubungi sang istri dan mengatakan dia bersama enam awak lain disandera.

    "Suami saya yang telepon tapi pakai nomor lain. Dia bilang kasih tahu ke perusahaan sekarang kalau saya disandera Abu Sayyaf," kata Mega saat ditemui di rumahnya. Menurut dia, Ismail tak banyak berbincang karena telepon tiba-tiba putus.

    Kepala Kepolisian Resor Kota Samarinda Komisaris Besar Setyobudi Dwiputro belum bisa memastikan kebenaran penyanderaan tujuh anak buah kapal Charles. "Kami masih selidiki," kata Setyobudi Dwiputro, Rabu. Dia justru curiga penyanderaan ini hanya kedok untuk penipuan.

    Kecurigaan pertama, kata Setyobudi, kapal tug boat Charles setelah ditracking oleh pihak perusahaan pada Rabu itu, sudah berlayar menuju Samarinda. Kecurigaan lain adalah nomor telepon yang digunakan menelepon istri Ismail adalah nomor dari Indonesia. "Telepon nomor depan 021, itu nomor Jakarta," katanya.

    AMIRULLAH | FIRMAN HIDAYAT

    BACA JUGA
    Lima Eks Teman Ahok Ternyata Dipecat karena Curang
    Dituduh Difasilitasi Ormas, Eks Teman Ahok: Kami Patungan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.