Tak Dibayar, Ini Kisah Relawan Teman Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yuda Agung, 43 tahun, warga Jalan Cililitan Besar, Jakarta Timur menjadi relawan Teman Ahok tanpa dibayar dan rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menyalin KTP, 23 Juni 2016. Tempo/Avit Hidayat

    Yuda Agung, 43 tahun, warga Jalan Cililitan Besar, Jakarta Timur menjadi relawan Teman Ahok tanpa dibayar dan rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menyalin KTP, 23 Juni 2016. Tempo/Avit Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Yuda Agung, 43 tahun, relawan Teman Ahok, jauh dari ingar-bingar kabar yang menyebut ada manipulasi dalam pengumpulan KTP. Warga Cililitan Besar Nomor 18 Kelurahan Kramat Jati, Jakarta Timur, itu tetap mengumpulkan salinan KTP di depan toko kelontongnya.

    Yuda, relawan pengumpul salinan KTP, rela tak dibayar, bahkan mengeluarkan uang dari koceknya sendiri. Semua itu ia lakukan agar Gubernur Basuki dapat kembali memimpin Jakarta pada 2017. Dia ingin mendukung Gubernur Ahok melenggang melalui jalur independen. "Karena itu, kami buat posko pengumpulan KTP," katanya saat ditemui pada Kamis, 23 Juni 2016.

    Dia mendirikan posko relawan itu 3 bulan lalu. Awalnya, Yuda diajak seorang guru sekolah dasar, yang juga relawan Teman Ahok, bernama Adi Ari, 55 tahun. Adi kemudian berinisiatif membuat posko sederhana di depan toko kelontong milik Yudi.

    Yudi bersedia menjadi relawan Teman Ahok karena melihat sepak terjang gubernur yang bersih dan tegas itu. Kata dia, Ahok—sapaan akrab Basuki—juga berani ambil risiko keluar dari partai politik. Yang membuat ia semakin terkesan adalah saat Ahok memilih maju melalui jalur independen.

    Selama menjadi relawan Teman Ahok, dia dan Adi mendapatkan sedikitnya 3.000 salinan KTP warga Kramat Jati, Jakarta Timur. Salinan dukungan itu kemudian ia serahkan ke Teman Ahok untuk melengkapi dukungan agar mencapai sejuta KTP.

    Yudi juga tak pernah tahu dengan ada isu gaji Rp 500 ribu per pekan, seperti yang diungkapkan mantan relawan Teman Ahok, Paulus Romindo, dan keempat temannya. Dia kaget dengan pemberitaan isu salinan KTP palsu dan gaji itu. "Kalau ada (gaji), saya juga ingin," tuturnya.

    Namun, sebagai relawan, Yudi ikhlas tidak mendapat imbalan apa pun. Dia hanya ingin Ahok maju lewat jalur independen. Sebab, dia ragu dengan kemampuan partai politik menciptakan tokoh yang progresif. Bahkan, semenjak reformasi, Yudi tak lagi pernah  terlibat dalam pemilihan.

    Sebelumnya, Paulus cs mengaku mantan relawan Teman Ahok. Dia mengatakan ditarget untuk mengumpulkan 140 KTP per pekan. Imbalannya uang Rp 500 ribu. Untuk mendapatkan jumlah itu, Paulus mengaku memanipulasi salinan dukungan KTP.

    Tapi isu ini ditepis pendiri Teman Ahok, Singgih Widiyastono, saat konferensi pers pada Rabu, 22 Juni lalu. Dia menduga ada ormas tertentu yang membekingi Paulus.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.