Indonesia, Filipina, dan Malaysia Sepakati Patroli Laut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bajak laut Somalia saat diamankan Angkatan Laut HMS Portland (Juni 2009). (AP Photo/ Alex Cave, Royal Navy)

    Bajak laut Somalia saat diamankan Angkatan Laut HMS Portland (Juni 2009). (AP Photo/ Alex Cave, Royal Navy)

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan telah membuat kesepakatan bersama Menteri Pertahanan Malaysia dan Filipina untuk mengamankan wilayah maritim di sekitar Sulawesi, Zamboanga, dan Sulu. Menurut Ryamizard, di wilayah perbatasan tersebut harus disediakan 5-10 kapal yang bisa berpatroli.

    "Jalur itu ada patroli yang mengantar kita ke perbatasan, lalu nanti di perbatasan diterima sama Malaysia atau Filipina," kata Ryamizard di kantornya, Rabu, 22 Juni 2016. Indonesia, Malaysia, dan Filipina sepakat akan membangun posko pengendalian bersama di perairan perbatasan.   

    Ryamizard mengatakan ketiga negara akan menyusun prosedur tetap (protap) pengamanan di perbatasan. Protap itu disusun sebagai landasan hukum terhadap tiga negara dalam upaya pengamanan wilayah perbatasan. Setelah itu, akan dilakukan pelatihan terhadap para petugas yang berjaga di perbatasan.

    Ryamizard berharap, penyanderaan anak buah kapal Indonesia beberapa waktu lalu tidak terulang kembali setelah adanya kerja sama trilateral tersebut. Namun, jika ada kejadian serupa, langkah paling utama yang dilakukan adalah Menteri Pertahanan dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina berkumpul untuk berkoordinasi merumuskan langkah yang tepat. "Setelah itu, pelaksanaannya diserahkan ke tentara masing-masing untuk secara teknis mengatasi itu," ujarnya.   

    Menurut Ryamizard, dalam pengawasan di perairan perbatasan, ketiga negara sepakat akan menyiapkan pesawat tanpa awak (drone) untuk mengawasi dari udara. Untuk posko pengendalian, akan dibangun di titik-titik strategis yang akan diisi tentara dari setiap negara.  

    Ryamizard menilai saat ini belum akan mengerahkan KRI untuk memperkuat keamanan perbatasan. Namun dimungkinkan KRI akan ikut dikerahkan sesuai kebutuhan. Ia akan berfokus mengawasi dengan drone. Dengan demikian, jika ada kapal asing yang mendekat, segera diawasi.   

    Langkah ini dianggap sebagai upaya konkret untuk mengantisipasi tindakan radikal yang berpotensi terjadi. Ryamizard pun berpesan khusus kepada pemerintah Filipina agar mampu mengawasi kelompok radikal di negara tersebut. "Filipina harus laksanakan hubungan yang baik, jangan sampai terjadi kontak senjata," tuturnya.  

    Pertemuan tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina, digelar di Manila, Filipina. Pertemuan itu menghadirkan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan Malaysia Dato Hishamuddin, dan Menteri Pertahanan Filipina Gazmin T. Voltaire pada Senin, 20 Juni 2016. Pertemuan tersebut sebagai tindak lanjut pertemuan pertama tiga menteri itu di sela-sela kegiatan ASEAN Defense Ministers Meeting, Mei lalu. 

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.