Banjir dan Longsor di Sulawesi Utara, 4 Penduduk Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga terpaksa melintasi jalan yang longsor di jalur Tomohon-Manado di Tinoor, Tomohon, Sulawesi Utara, (17/1). Longsor yang terjadi di beberapa titik tersebut membuat arus lalulintas di daerah itu lumpuh total. ANTARA/Fiqman Sunandar

    Sejumlah warga terpaksa melintasi jalan yang longsor di jalur Tomohon-Manado di Tinoor, Tomohon, Sulawesi Utara, (17/1). Longsor yang terjadi di beberapa titik tersebut membuat arus lalulintas di daerah itu lumpuh total. ANTARA/Fiqman Sunandar

    TEMPO.COJakarta - Banjir dan longsor melanda sejumlah daerah di Provinsi Sulawesi Utara, Selasa, 21 Juni 2016. Dari data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), insiden itu terjadi di Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau Tagulandang Biaro), serta Kabupaten Kepulauan Sangihe.

    “Data sementara, dampak banjir dan longsor itu menyebabkan empat orang tewas, satu orang hilang, dan ratusan rumah rusak,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, lewat keterangan tertulis pada Rabu, 22 Juni 216. 

    Insiden itu, menurut Sutopo, dipicu hujan lebat yang disertai gelombang tinggi. Data BNPB didapat dari koordinasi dengan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara. “Komunikasi dengan BPBD setempat juga terkendala, sehingga data masih terbatas.”

    Di Kota Manado, ujar Sutopo, banyak pohon tumbang di jalanan karena angin kencang. “Satu orang tewas saat kendaraannya tertimpa pohon tumbang.”

    Longsor pun terjadi di sejumlah titik di Kota Tomohon, seperti di Kelurahan Tinoor. “Sedangkan di Kabupaten Minahasa Selatan ada longsor di beberapa kecamatan, hingga gelombang pasang yang menghanyutkan perahu motor,” ujar Sutopo. 

    Di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sutopo menuturkan, banjir dan longsor menyerang Kecamatan Siau Barat Utara, Desa Kinali, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Timur, dan Kecamatan Siau Barat. Karena insiden tersebut, 23 orang diketahui mengungsi ke sebuah gereja di Desa Mini, Sitaro. 

    “Jembatan Batuawang di Kecamatan Siau Timur tertimbun material lahar dingin sisa erupsi Gunung Karangetang. Akses ibu kota kabupaten ke Pelabuhan Ulu-ulu jadi terputus,” ujar Sutopo.

    Adapun akses laut ke Kabupaten Kepulauan Sangihe terputus oleh gelombang tinggi. Daerah yang terdiri atas pulau-pulau kecil ini sulit dijangkau. “Di sana dilaporkan tiga orang meninggal dan satu orang hilang. Komunikasi pun sulit dilakukan karena listrik mati.”

    Sutopo menekankan bahwa BPBD, TNI, Polri, SAR, serta masyarakat setempat terus mengevakuasi korban dan sisa insiden. Pendataan dan dropping logistik pun terus dilakukan. “Logistik dan peralatan bantuan BNPB di gudang BPBD dikerahkan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak.”

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.