Ini Penyebab 2 Desa di Purworejo Rawan Longsor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan petugas kepolisian melakukan proses evakuasi dan pembersihan pada titik longsor di dusun Caok, Karangrejo, Loano, Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 2016. Puluhan rumah rusak berat tertimbun tanah sejak Sabtu (18/06). TEMPO/Pius Erlangga

    Puluhan petugas kepolisian melakukan proses evakuasi dan pembersihan pada titik longsor di dusun Caok, Karangrejo, Loano, Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 2016. Puluhan rumah rusak berat tertimbun tanah sejak Sabtu (18/06). TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Purworejo - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Purworejo, Budi Harjono mengatakan Desa Karangrejo dan Desa Donorati tergolong dalam tingkat tinggi rawan bencana longsor, karena wilayahnya sebagian besar tanah gambut dan marak penebangan liar. Di dua desa itulah ditemukan paling banyak korban tewas akibat longsor yang terjadi Sabtu, 18 Juni 2016.  

    Budi mengatakan strategi mitigasi bencana sudah dilakukan seperti sosialisasi, simulasi, dan pemasangan rambu. "Warga responsnya macam-macam. Ada yang mendukung dan ada yang cuek. Tapi yang namanya bencana, siapa yang tahu," katanya kepada Tempo, Senin 21 Juni 2016. Namun dia, mengakui selama ini program yang sudah dilakukan sebatas sosialisasi dan simulasi bencana.

    Ia menjelaskan total korban tewas akibat tanah longsor yang sudah ditemukan mencapai 30 orang dan sebanyak 13 orang masih hilang. Adapun rinciannya di Desa Donorati 9 orang tewas dan 6 orang belum ditemukan, Desa Karangrejo 10 orang tewas, 7 belum ditemukan, Desa Jelok 4 orang tewas, Desa Pacekalan 2 orang tewas, Desa Sidomulyo 5 orang tewas. “Sebanyak 16 orang mengalami luka-luka dari 5 desa tersebut,” katanya kepada Tempo Senin 21 Juni 2016.

    Suparlan, 61 tahun, warga Padukuhan Cauk, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Loano, Purworejo, menjelaskan tanah longsor akibat hujan deras yang turun sejak siang. "Pukul 5 sore itu mulai tambah deras. Longsornya sebelum pukul 7 malam," ungkapnya. Akibat tanah longsor tersebut, menurut dia, setidaknya terdapat 4 rumah yang terpendam. Sebelum tanah longsor terjadi, dia sempat mendengarkan suara yang keras. Ia sempat mengungsi di tetangganya di Pedukuhan Cauk yang lebih aman. "Setelah tanah longsor, hampir 3 hari ini mati lampu," yang kemarin mulai kembali ke rumahnya.

    Dalam siaran persnya, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan  Tim SAR gabungan menemukan 4 korban meninggal, yakni tiga korban ditemukan di Desa Donorati Kecamatan Purworejo dan satu korban di di Desa Caok/Karangrejo, Kecamatan Loano. Ia mengatakan kemungkinan masih ada 6 orang korban di Desa Donorati dan 8 orang di Desa Caok. Secara total korban bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah mencapai 47 tewas dan 15 orang hilang.  

    Ia mengatakan proses pencarian korban dibantu 3 alat berat setelah terbukanya akses jalan yang sebelumnya sempat tertutup. “Masyarakat tetap siapsiaga mengingat potensi banjir dan longsor masih tetap tinggi,” katanya dalam siaran pers kemarin. Kepala BNPB, Willem Rampangilei yang datang ke lokasi bencana mengatakan proses pencarian korban akan dilakukan  hingga 7 hari ke depan atau Jumat mendatang. Namun jika diperlukan, masa pencarian dapat diperpanjang. Sebanyak 250 personil terlibat dalam Tim SAR gabungan.

    IQBAL | BETRIQ KINDY ARRAZY 

     

     

     

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.