Banjir di Kulon Progo, Beberapa Tempat Masih Tergenang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah Yogyakarta mengevakuasi korban banjir akibat meluapnya Kali Winongo, Sabtu, 12 Maret 2016. (Foto: BPBD Yogyakarta)

    Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah Yogyakarta mengevakuasi korban banjir akibat meluapnya Kali Winongo, Sabtu, 12 Maret 2016. (Foto: BPBD Yogyakarta)

    TEMPO.COYogyakarta - Beberapa daerah di Kulon Progo, Yogyakarta, mengalami banjir. Berdasarkan data banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo, selain permukiman warga, beberapa bangunan infrastruktur pemerintah juga tergenang air. Saat ini, beberapa wilayah masih tergenang air.

    “Banjir di sisi utara sudah surut. Tinggal di selatan masih ada genangan,” kata Kepala Bidang Pencegahan BPBD Kulon Progo Eko Nugroho saat dihubungi Tempo, Minggu, 19 Juni 2016.

    Peristiwa banjir di Kulon Progo terjadi pada 18 Juni 2016 pukul 17.30-22.05 WIB. Dari data banjir BPBD di sana, air masuk ke permukiman warga Desa Kulur, Kecamatan Temon, karena tanggul Sungai Seling jebol. Sedangkan, di Desa Krembangan, Kecamatan Panjatan, banjir berasal dari luapan Sungai Haisero. Di Desa Punukan, Kecamatan Wates, Gununggondang Margosari, banjir berasal dari luapan Sungai Kalipapah. Adapun di Desa Gotakan II, Kecamatan Panjatan, banjir akibat luapan Sungai Nagung.

    “Tidak ada korban jiwa dan sejauh ini tidak perlu pengungsian bagi masyarakat terdampak,” ujar Eko, yang belum mempunyai kalkulasi total kerugian materiil. 

    Selain permukiman warga, beberapa bangunan infrastruktur pemerintah yang tergenang air antara lain kantor Dinas Pendidikan Kulon Progo, Puskesmas Samigaluh II, kantor Kepolisian Sektor Panjatan, serta jembatan darurat Sarigono di Kecamatan Samigaluh yang rusak diterjang banjir.

    Pelaksana tugas Kepala BPBD DIY Gatot Saptadi mengatakan terkejut karena beberapa daerah di Kulon Progo mengalami bencana banjir pada Sabtu kemarin dengan ketinggian 50 sentimeter hingga 1 meter. Meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini adanya potensi hujan lebat pada 17-20 Juni 2016, termasuk di wilayah DIY, ia tak menyangka akan separah itu.

    “Karena genangan airnya tinggi sampai masuk rumah. Itu di luar dugaan,” tutur Gatot saat dihubungi Tempo, Ahad. Ia menambahkan, semestinya Juni ini sudah masuk musim kemarau.

    Bencana yang biasanya terjadi saat peralihan musim penghujan ke kemarau adalah angin kencang. “Tapi ini banjir,” ucap Gatot, yang juga Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY.

    Selain banjir, bencana tanah longsor menimpa sejumlah rumah penduduk dan menutup akses jalan. Beberapa rumah yang rusak akibat longsor di antaranya rumah Suradal dan Suwarjo di Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, dan juga rumah Suraminem dan Andi Nurcahyo di Purwosari.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.