Mangkrak, Menteri Jonan Kritik Terminal Arjosari Malang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Ignatius Jonan sebelum menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi V atau komisi perhubungan DPR, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, 11 April 2016. TEMPO/Ghoida Rahmah

    Menteri Perhubungan Ignatius Jonan sebelum menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi V atau komisi perhubungan DPR, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, 11 April 2016. TEMPO/Ghoida Rahmah

    TEMPO.CO, Malang -Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengkritik revitalisasi Terminal Arjosari di Kota Malang, Jawa Timur, yang tak kunjung selesai sejak dipermak ulang pada 2011. Jonan menilai revitalisasi terminal terpadu Arjosari terlalu lama.

    Karena itu, Menteri Jonan meminta kuasa pengguna anggaran (KPA) lebih cermat menggunakan anggaran, meski dia tahu renovasi terminal tersebut membutuhkan biaya yang besar. ”Masa bangun terminal tidak selesai bertahun-tahun. KPA tidak becus itu,” ujar Jonan saat mengecek kesiapan angkutan kereta di Stasiun Kota Baru, Kota Malang, Kamis, 16 Juni 2016.

    Jonan menegaskan bakal mengecek data proyek tersebut agar bisa diketahui kendala dan permasalahannya. Menurut dia, bisa perencanaan kurang pas. ”Tapi kalau bangun terminal sampai 7 tahun, itu pasti ada apa-apanya?” ujar dia. ”Saya bangun bandara saja bisa selesai dalam dua tahun.”

    Terminal Arjosari merupakan terminal terpadu yang berlokasi di Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing. Pada 2011, Terminal Arjosari direnovasi besar-besaran dalam proyek revitalisasi agar menjadi terminal modern dan megah di Jawa Timur. Terminal ini melayani angkutan dalam kota dan provinsi, serta antarprovinsi.

    Tempo mencatat, proyek revitalisasi Terminal Arjosari dimulai pada 2011. Pembangunannya langsung ditangani Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Sesuai detail engineering design buatan Direktorat Perhubungan Darat, pembangunan terminal yang luasnya hampir 4 hektare itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 101 miliar.

    Dana tersebut antara lain untuk membangun shelter keberangkatan bus antarkota dalam provinsi sebesar Rp 4,5 miliar; pembangunan gedung utama terminal Rp 32,7 miliar; sistem sanitasi atau plumbing kantor terminal Rp 1,3 miliar; shelter kedatangan bus Rp 4,9 miliar, serta pembangunan jembatan penghubung dan shelter antarkota antarprovinsi Rp 18,6 miliar. Sedangkan area angkutan perkotaan ditanggung Pemerintah Kota Malang sebesar Rp 34,9 miliar, plus sistem sanitasi terminal angkutan perkotaan Rp 2 miliar.

    Pengalokasian anggaran menggunakan sistem multiyear dengan target selesai pada 2014. Tapi, target itu meleset meski anggaran yang sudah terpakai sebesar Rp 70 miliar atau habis 69,3 persen dari total anggaran.

    Kondisi ini tentunya membuat penumpang tak nyaman apalagi menjelang masa Lebaran. Hilda, warga Arjosari, ikut mengkritik lambatnya pembangunan terminal. Tiap Lebaran, kondisi dan suasana Terminal Arjosari tak sedap dipandang. Padahal, rata-rata tiap hari ada 700 bus keluar-masuk terminal, dengan rata-rata jumlah penumpang mencapai 5.000 orang per hari selama 7 hari arus mudik (H-7) dan sepekan arus balik (H+7).

    Menurut Hilda, tidak selesainya pembangunan Terminal Arjosari merugikan warga sekitar. Selain itu, nama Arjosari tercemar karena bisa saja nanti dijuluki sebagai daerah kumuh meski banyak kompleks perumahan. ”Sebagai warga Arjosari, semoga pembangunan lekas selesai,” ujar Hilda, 25 tahun.



    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.