Lagi, Sidang Vonis Kasus Salim Kancil Ditunda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Desa Selo Awar-Awar Lumajang, Hariyono (kedua kanan) mengikuti sidang perdana kasus dugaan pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur, 18 Februari 2016. ANTARA FOTO

    Kepala Desa Selo Awar-Awar Lumajang, Hariyono (kedua kanan) mengikuti sidang perdana kasus dugaan pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur, 18 Februari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Surabaya - Sidang vonis kasus pembunuhan Salim Kancil, aktivis tambang Lumajang dengan tersangka Kepala Desa Selok Awar-awar, Haryono, akhirnya ditunda lagi karena Haryono mengaku sakit.

    Haryono mengaku sakit saat ditanya ketua majelis hakim Jihad Akranudin terkait dengan kesiapannya mendengarkan vonis di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis, 16 Juni 2016. Haryono merupakan aktor intelektual pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan. Dia dituntut seumur hidup oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi Lumajang. "Karena sakit, sesuai dengan KUHAP, sidang ditunda hingga 23 Juni," kata Jihad.

    Pengunjung pun riuh setelah hakim mengetuk palu tanda sidang selesai. Tosan yang hadir di situ merasa hakim tidak adil. Dia menganggap penyelesaian kasus ini terkesan berbelit-belit. "Tidak fair itu!" celetuk Tosan.

    Sementara itu, jaksa penuntut umum Dodi Gazali menuturkan, berdasarkan KUHAP, sidang bisa ditunda jika terdakwa sakit. Penundaan itu, menurut Dodi, juga harus disertai keterangan jelas. Pada waktu persidangan memang tidak ditunjukkan keterangan dokter. Tapi, saat Dodi menjenguk Haryono di ruang tahanan Pengadilan Negeri Surabaya, tersangka mengaku gula darahnya naik. "Nanti kita cek di rumah sakit juga," ujar Dodi.

    Pengacara Haryono, Budi Setiono, mengatakan Haryono memang sakit. Dia juga membenarkan bahwa Haryono beberapa kali dirawat di Rumah Sakit Bayangkara karena penyakit gulanya. "Pak Haryono kan juga sudah tua," ucap Budi.

    Ada 15 berkas dalam kasus ini. Belasan berkas itu intinya terdiri atas kasus penambangan ilegal, pembunuhan Salim, dan penganiayaan Tosan dengan jumlah terdakwa sebanyak 37. Satu berkas dengan terdakwa anak-anak sudah divonis 3,5 tahun penjara.

    Kasus ini berawal dari pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan. Keduanya adalah aktivis yang menolak penambangan pasir di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Karena penolakan itu, puluhan warga mengeroyok keduanya di balai desa pada 26 September 2015. Akibat pengeroyokan itu, Salim Kancil tewas seketika. Sedangkan Tosan mengalami luka-luka dan sempat dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Kota Malang.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.