Dianggap Anti-Kritik, Ahok Tak Akan Didukung Relawan Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam sebuah wawancara informal di Balai Kota, 19 Mei 2016. TEMPO/Destrianita Kusumastuti

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam sebuah wawancara informal di Balai Kota, 19 Mei 2016. TEMPO/Destrianita Kusumastuti

    TEMPO.COJakarta - Relawan Jokowi, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat), memutuskan tidak akan mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Ketua Umum Almisbat Teddy Wibisana mengatakan pencabutan dukungan dilakukan setelah melihat sosok Ahok yang antikritik.

    Teddy mencontohkan soal diskresi dalam kasus reklamasi. Menurut dia, diskresi diberikan Ahok kepada pengembang yang turut membangun proyek reklamasi. "Untuk kasus diskresi, mungkin dia tidak terima uang," kata Teddy saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Juni 2016. "Tapi dia menggadaikan di awal kebijakan. Begitu dikritik, marah."

    Selain tak setuju dengan sifat Ahok yang antikritik, Teddy menyayangkan sifat Ahok yang tidak humanis dalam bergaul dengan masyarakat dan membangun kota. Menurut dia, dalam membangun kota, Ahok harus mengikuti pola dan corak produksi masyarakat.

    "Kalau petani, ya, di daerah pertanian, nelayan harus di pantai," ujar dia. "Enggak bisa ke tengah." Jakarta memang kota, tapi ia juga punya kampung. Teddy menilai Ahok terlalu developmentalist. Pembangunan kota hanya dilihat dari bentuk fisik. Padahal, kata Teddy, ada proses-proses hubungan kemasyarakatan yang harus dikelola.

    Sebagai gantinya, relawan Jokowi berencana mendukung Djarot Saiful Hidayat dalam pemilihan gubernur 2017. Djarot dianggap memiliki prestasi dan lebih humanis daripada Ahok. "Kami mau tunjukkan Djarot selama ini tidak menonjol karena tak dikasih peran," tuturnya.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.