Kamis, 19 Juli 2018

KPK Usut Rp 30 Miliar dari Pengembang ke Teman Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memadati salah satu posko Teman Ahok di Kuningan City, Jakarta, 11 Maret 2016. Teman Ahok berharap Ahok dapat maju sebagai calon Gubernur Independen dalam mewujudkan Jakarta baru yang lebih bersih, maju dan manusiawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Warga memadati salah satu posko Teman Ahok di Kuningan City, Jakarta, 11 Maret 2016. Teman Ahok berharap Ahok dapat maju sebagai calon Gubernur Independen dalam mewujudkan Jakarta baru yang lebih bersih, maju dan manusiawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mengembangkan penyelidikan suap dari pengembang reklamasi kepada anggota parlemen Jakarta. Dari pengembangan itu, penyidik memperoleh informasi awal aliran dana untuk Teman Ahok, organisasi pendukung Gubernur Basuki Tjahaja Purnama maju dalam pemilihan gubernur 2017 dari jalur nonpartai.

    BACA: Diduga Dapat Dana dari Pengembang, Ini Jawaban Teman Ahok

    Menurut Ketua KPK Agus Rahardjo, penyelidikan atas duit tersebut penting karena berhubungan dengan izin dan suap reklamasi yang menjerat anggota DPRD Jakarta. "Kami sedang siapkan surat perintah penyelidikannya," kata Agus dalam rapat kerja dengan Komisi Hukum DPR, Rabu, 15 Juni 2016.

    Pernyataan Agus itu menjawab pertanyaan anggota Komisi Hukum, Junimart Girsang. Pengacara ini mempertanyakan informasi yang ia terima bahwa ada uang Rp 30 miliar dari pengembang reklamasi melalui staf khusus Gubernur Basuki, Sunny Tanuwidjaja, untuk Teman Ahok. "Saya tak tahu apakah KPK sudah memeriksa soal ini," kata politikus PDI Perjuangan itu.

    BACA: Ada 'Teman Ahok' Ancam Buang KTP, Jika Basuki Pakai Jalur Parpol

    Sunny kini berstatus cegah tangkal karena terekam bercakap dengan Sugianto Kusuma, bos Agung Sedayu pemilik lima pulau; dan Mohamad Sanusi, politikus Gerindra penerima suap. Percakapan diduga membicarakan kontribusi tambahan reklamasi sebesar 15 persen x luas lahan reklamasi yang bisa dijual x nilai jual obyek pajak.

    Agus mengatakan penyidik mendapat informasi awal soal duit itu tahun lalu. Ketika KPK mulai memeriksa Sugianto alias Aguan, informasi aliran duit seperti yang disebutkan Junimart sempat beredar.

    Aguan juga dicekal, menyusul penangkapan Sanusi. Tempo pernah bertanya kepadanya soal aliran duit itu seusai pemeriksaan pada 17 Mei 2016. Pengusaha yang kerap disebut sebagai anggota "Naga Sembilan" itu tak menggubrisnya.

    BACA: Dua Pendiri Teman Ahok Tertahan di Imigrasi Singapura

    Kresna Wasedanto, pengacara Aguan, memutus saluran telepon setelah mendengar pertanyaan konfirmasi dari Tempo dan tak bisa dihubungi kembali. Sedangkan Sunny, yang diperiksa sehari setelah Aguan, menyangkal menerima uang. "Enggak ada itu," katanya. Hingga kemarin, Sunny tak bisa dikontak kembali untuk dimintai konfirmasi ihwal pernyataan Junimart.

    Adapun Singgih Widyastomo, salah satu pendiri Teman Ahok, membantah menerima Rp 30 miliar dari pengembang. Biaya operasional Teman Ahok, kata dia, diperoleh dari berjualan cendera mata. "Kami sudah jual puluhan ribu kaus, terkumpul Rp 3 miliar," katanya. "Silakan KPK selidiki sejelas-jelasnya."

    BACA: Didukung Golkar, Ahok: Tunggu Keputusan Teman Ahok

    Penerimaan uang, menurut Singgih, hanya sekali dari Hasan Nasbi, CEO Cyrus Network, sebesar Rp 500 juta pada Juni 2015. "Itu pun sudah kami kembalikan secara bertahap," katanya.

    MUHAMAD RIZKI | INDRI MAULIDAR | DEVY ERNIS

    TITO KARNAVIAN KAPOLRI
    Istana Benarkan Tunjuk Tito Karnavian Jadi Calon Kapolri
    Sidang Kopi Maut, Begini Cara Jessica Rancang Kematian Mirna
    Siapa Juara Euro 2016: Percaya Gurita Atau Statistika? Magis Spanyol atau Pragmatis Prancis?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Musim Berburu Begal Saat Asian Games 2018 di Jakarta

    Demi keamanan Asian Games 2018, Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar operasi besar-besaran dengan target utama penjahat jalanan dan para residivis.