Ryamizard Bantah Preman Bali Dilatih Pakai Sejata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Direktur Utama (Dirut) PT Pindad (Persero) Silmy Karim menghadiri peluncuran empat produk senjata terbaru di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 9 Juni 2016. TEMPO/Subekti.

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Direktur Utama (Dirut) PT Pindad (Persero) Silmy Karim menghadiri peluncuran empat produk senjata terbaru di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 9 Juni 2016. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu membantah adanya pelatihan kelompok preman di Bali menggunakan senjata dalam hal program bela negara yang digaungkan lembaganya. "Tidak benar, yang saya latih tidak menggunakan senjata," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 13 Juni 2016.

    Ryamizard mengaku tidak tahu menahu soal kelompok preman yang dikabarkan mendapat pelatihan tersebut. "Tidak tahu saya, nanti lah," tuturnya.

    Ryamizard menegaskan kurikulum mengenai bela negara disusun tanpa memakai senjata. Penggunaan senjata baru diberikan bila ancaman negara meningkat.

    Kepala Penerangan Komando Daerah Militer IX Udayana Letnan Kolonel Infanteri J. Hotman Hutahaean mengatakan pengenalan senjata kepada para preman merupakan bagian dari materi bela negara. Para peserta diharapkan dapat merasakan pengalaman perang. Ia menambahkan pelatihan ini yang pertama melibatkan preman. "Tujuannya membuat mereka jadi warga negara yang baik," katanya pekan lalu.

    Pelatihan militer yang dianggap bagian dari bela negara bertujuan untuk menjaga negara dari pengaruh ideologis dan nonideologis asing. Kegiatan ini sudah lama direncanakan militer dan Kementerian Pertahanan. Bahkan, sempat muncul wacana wajib militer.

    AHMAD FAIZ | DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RZWP3K

    Sebanyak 21 provinsi telah menerbitkan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap tak berpihak pada nelayan.