Polisi Jaga Ketat Lokasi Tambang di Bengkulu Pasca-kerusuhan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengamanan Kerusuhan. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pengamanan Kerusuhan. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.COBengkulu - Kepolisian Daerah Bengkulu menyiagakan 200 personel di lokasi tambang PT Citra Buana Seraya setelah kerusuhan yang melanda kawasan itu pada Sabtu, 11 Juni 2016. Kepala Polda Bengkulu Brigadir Jenderal M. Ghufron mengatakan aparatnya disiagakan untuk menjaga kondisi agar tak terjadi lagi kerusuhan. "Saat ini 200 personel kami siagakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan," kata Ghufron saat berkunjung ke lokasi, kemarin.

    Terkait dengan kerusuhan, polisi juga masih melakukan pengumpulan fakta-fakta, siapa pelaku, dalang, dan penyebab kerusuhan yang mengakibatkan empat warga tertembak peluru aparat. Satu di antaranya hingga saat ini masih kritis.

    Ghufron mengatakan tindakan yang dilakukan anak buahnya di lapangan telah memenuhi aturan. Jika pun terjadi penembakan, Ghufron menuding pemicunya adalah masyarakat. Ghufron mengatakan polisi punya rekaman atas peristiwa kerusuhan tersebut.

    "Kalau massa anarkistis kan ada aturan, sesuai prosedur, ini negara hukum, siapa bertindak salah, tentu akan dikenai sanksi hukum," ujarnya.

    Kerusuhan di lokasi tambang PT Citra Buana Seraya berawal dari aksi penolakan tambang yang dilakukan warga dari 12 desa yang ada di Kecamatan Merigi Sakti dan Kecamatan Merigi Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah. 

    Akibat kerusuhan itu, empat warga tertembak dan terpaksa dilarikan ke RSUD M. Yunus, Bengkulu. Adapun dari polisi juga terdapat korban, yaitu seorang personel yang terkena bacok di kepala dan punggung.

    Setelah kerusuhan, warga yang terlibat aksi masih ketakutan dan tak berani ke luar rumah. Menurut Ketua Forum Masyarakat Rejang Gunung Bungkuk (FMRGB) Nurdin, masyarakat takut keluar karena melihat banyak polisi berjaga-jaga di lokasi tambang. “Mereka masih takut melihat banyak warga berjatuhan tertembak aparat,” tuturnya.

    Meski begitu, masyarakat, kata Nurdin, akan terus memperjuangkan keinginan mereka, yakni menolak pertambangan batu bara dengan sistem tertutup (underground).

    "Lubang-lubang itu perangkap hidup, yang setiap saat mengancam kehidupan kami, dan kami tidak ingin mewariskan itu kepada anak-cucu,” ucapnya.

    Meski demikian, dia juga meminta masyarakat tidak terpancing akan isu-isu yang berkembang dan tetap menahan diri agar tidak memicu aksi yang tak terkendali.

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.