Gelombang Pasang di Bantul Dianggap Peristiwa Tahunan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga dan pedagang yang warungnya terkena dampak gelombang tinggi air laut berjaga-jaga dan membersihkan sampah yang dibawa ombak di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta, 9 Juni 2016.  TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah warga dan pedagang yang warungnya terkena dampak gelombang tinggi air laut berjaga-jaga dan membersihkan sampah yang dibawa ombak di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta, 9 Juni 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Bantul -- Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Anton Vektori, mengatakan dampak kedatangan gelombang pasang, yang menerjang pantai-pantai di Bantul selama beberapa hari belakangan, belum masuk kategori darurat bencana.

    Hingga kini, penanganan dampak gelombang pasang di kawasan pesisir Bantul juga tidak memakai dana tanggap darurat bencana.  "Tidak ada tanggap darurat. Kami hanya terus pantau situasi dan berkoordinasi dengan Tim SAR," kata Anton pada Kamis, 9 Juni 2016.

    Menurut Anton, penetapan situasi tanggap darurat bencana akibat kedatangan gelombang pasang tahun ini belum diperlukan. Karena itu, jumlah personel Tim SAR yang bertugas di pantai-pantai di Bantul juga masih sama dengan hari-hari biasa. Jadwal piket jaga anggota Tim SAR juga tidak berubah.

    Anton beralasan kedatangan gelombang pasang yang menerjang kawasan pesisir selatan Bantul sudah biasa terjadi. Setiap tahun, gelombang pasang akan muncul dan mengancam bangunan-bangunan yang berjarak tidak jauh dari bibir pantai. Dampak terbesar gelombang pasang kali ini baru mengancam bangunan-bangunan yang di pesisir pantai.

    Menurut dia, sebagian pemilik warung dan bangunan di pinggiran pantai, yang selama ini ramai disambangi wisatawan, di Bantul, sudah menyadari kerawanan lokasi usahanya. 

    Anton mengatakan mayoritas bangunan memang berada di kawasan pesisir pantai yang semestinya dilarang menjadi tempat bangunan. "Warga juga sudah tahu. Kalau musim seperti ini, mereka akan mengosongkan warung dan menjauhkan perahu atau jaring dari pantai," kata dia.

    Berdasar hasil pantauan BPBD Bantul, situasi pantai-pantai di daerah ini hingga sekarang masih sama dengan kondisi Rabu kemarin. Sebagian bangunan di pantai-pantai tujuan wisata di Bantul digenangi air laut dan terpapar pasir pantai yang menutupi lantainya. "Di sebagian kawasan Pantai Parangtritis di sisi timur juga mulai digenangi air laut," kata Anton.

    Di antara pantai-pantai obyek wisata di Bantul yang terkena dampak terparah gelombang pasang kali ini ialah Pantai Depok, Pantai Kuwaru, Pantai Goa Cemara dan Pantai Baru Pandansimo. Sebagian pemilik warung di pantai ini mulai mengosongkan bangunannya. Sementara pedagang yang lain memasang karung-karung berisi pasir di depan warungnya untuk menahan terjangan ombak.

    Koordinator Tim SAR untuk Pantai Samas, Kuwaru, Goa Cemara dan Pandansimo, Rismianto, mencatat gelombang pasang mulai kerap mendatangi pesisir Bantul sejak sebulan belakangan. 
    Sejak awal pekan ini, gelombang semakin besar dan kuat karena bisa setinggi sekitar empat hingga lima meter. "Di Pantai Baru Pandansimo sudah memicu abrasi, tapi belum parah," kata dia.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.