Penjelasan Pentingnya Kemenhan Punya Badan Intelijen Sendiri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Minister of Defense Acquisition Program Administration Republik Korea Chang Myoungjin (kanan) dan Duta Besar Republik Korea, Cho Taiyoung (kiri), menjawab pertanyaan awak media seusai melakukan penandatangan kontrak kesepakatan jangka panjang, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 7 Januari 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bersama Minister of Defense Acquisition Program Administration Republik Korea Chang Myoungjin (kanan) dan Duta Besar Republik Korea, Cho Taiyoung (kiri), menjawab pertanyaan awak media seusai melakukan penandatangan kontrak kesepakatan jangka panjang, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, 7 Januari 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Laksamana Madya Widodo mengatakan dasar rencana membentuk badan intelijen adalah keperluan pembuatan kebijakan. "Kemhan dalam membuat kebijakan butuh input data yang komprehensif, ini tak hanya soal pengawasan pertahanan di negara atau negara-negara lain,' kata Widodo di ruang rapat Komisi Pertahanan DPR RI, Kamis, 9 Juni 2016.

    Intelijen di lingkungan Kementerian Pertahanan, kata Widodo, berguna untuk mengidentifikasi  sumber daya dalam negeri yang bisa mendukung pertahanan. Sumber daya itu meliputi, pangan, energi, bahkan industri maritim. "Termasuk potensi pertahanan di daerah, itu didata  sebagai komponen pendukung dan komponen cadangan. Fungsinya dipakai jika suatu saat negara dalam kondisi darurat."

    Sebelumnya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan pentingnya pembentukan intelijen di Kementerian Pertahanan. Ia mengatakan hampir semua Kementerian Pertahanan di dunia mempunyai intelijen. "Selain intelijen dalam negeri dan hukum, harus ada intelijen pertahanan," ucap Ryamizard di Jakarta, Senin, 6 Juni 2016.

    BACA: Ryamizard: Kementerian Pertahanan Perlu Intelijen Sendiri

    Widodo menjelaskan, lembaga ini dijamin tidak akan tumpang tindih seperti Badam Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intelijen Strategis (Bais). "Kalau Bais itu kan operasional di bawah Panglima TNI, menangani kekuatan yang konvensional antarangkatan bersenjata, kalau di Kementerian Pertahanan mengawasi resources (sumber daya)," kata Widodo.

    Sedangkan BIN, kata Widodo, bekerja pada presiden untuk lingkup yang lebih luas. BIN membantu pembentukan kebijakan negara, yang meliputi politik, ekonomi, dan sebagainya. "Intelijen yang dikelola Kementerian Pertahanan fokus pada pertahanan saja."

    Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR dari PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin menilai pembentukan badan tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI dan Undang-Undang No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. "Badan intelijen internal yang ingin dibentuk itu mungkin saja sangat dibutuhkan. Namun, DPR keberatan jika pembentukan badan itu tak sesuai dengan undang-undang," kata Hasanuddin.

    Menurut Hasanuddin, DPR tak mempermasalahkan rencana tersebut, bila dasar dan alasannya memang kuat. tentu saja disesuaikan dengan undang-undang. "Kalau dianggap sangat penting, jika perlu ubah undang-undang. Lalu dibicarakan di DPR. Artinya, amankan dulu UU-nya agar tak bertentangan," ujar Hasanuddin.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Rencana Pendapatan dari Pajak 2019 BPRD DKI Jakarta

    Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta menetapkan target pendapatan dari pajak sebesar Rp 44,18 triliun pada 2019. Berikut rincian target BPRD.