Pembacaan Putusan Ditunda, Begini Ekspresi Nazaruddin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin sebelum pembacaan sidang putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Kamis, 9 Juni 2016. TEMPO/Maya Ayu

    Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin sebelum pembacaan sidang putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Kamis, 9 Juni 2016. TEMPO/Maya Ayu

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat menunda pembacaan putusan kasus pencucian uang dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin. Penundaan ini disebabkan karena hakim belum bermufakat mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut.

    "Masih ada yang mengganjal. Jadi, belum bisa diputuskan," kata Ketua Majelis Hakim Ibnu Basuki Widodo di ruang Kartika 1 Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Kamis, 9 Juni 2016. "Hakim masih harus bermusyawarah," katanya.

    Pembacaan putusan terhadap Nazaruddin dijadwalkan hari ini, Kamis, 9 Juni 2016. Tapi sidang pembacaan putusan tersebut ditunda selama satu pekan ke depan. "Ditunda hari Rabu tanggal 15 Juni," kata Ibnu.

    Nazaruddin dituntut hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan penjara. Jaksa mengatakan mantan anggota DPR itu terbukti mencuci uang dengan mengalihkan hartanya senilai Rp 500 miliar sejak Oktober 2010 hingga 15 Desember 2014.

    Selain itu, Nazaruddin didakwa melakukan pidana pencucian uang dengan menyamarkan harta kekayaannya sebesar Rp 80 miliar dalam kurun waktu 15 September 2009 hingga 22 Oktober 2010.

    Atas perbuatannya itu, jaksa penuntut menyatakan Nazaruddin terbukti melanggar Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pencucian Uang juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Pasal 65 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Mendengar penundaan putusan ini, Nazaruddin yang sudah tiba sejak jam 1 siang di Pengadilan Tipikor hanya bisa pasrah. Ia tak mau berkomentar apa pun dan segera ke luar dari ruangan sidang sambil memegangi perutnya.

    Elza Syarief, kuasa hukum Nazaruddin, mengatakan sebetulnya Nazaruddin ingin segera mendengar putusan hakim. Elza berharap kliennya mendapat putusan terbaik. "Ingin cepat-cepat ya, kalau lihat kondisi. Semoga dapat yang terbaik," kata Elza.

    Selain itu, Elza berharap agar majelis hakim mengembalikan harta kekayaan Nazaruddin yang tidak seharusnya disita karena bukan berasal dari gratifikasi.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.