Kemarau Basah hingga Agustus, Ini Faktor Penyebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Karangturi, Setrokalangan, Kudus, Jawa Tengah, 12 Februari 2016. Akibat intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya sungai di wilayah tersebut menyebabkan sejumlah tempat mengalami kebanjiran dan aktivitas masyarakat menjadi terganggu. ANTARA FOTO

    Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Karangturi, Setrokalangan, Kudus, Jawa Tengah, 12 Februari 2016. Akibat intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya sungai di wilayah tersebut menyebabkan sejumlah tempat mengalami kebanjiran dan aktivitas masyarakat menjadi terganggu. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Bandung - Setelah dilanda El Nino tahun lalu, wilayah Indonesia bakal mengalami anomali musim pada 2016-2017. Kemarau kini tak lagi kering karena hujan masih bakal turun seperti pada musimnya.

    “Dari prediksi dengan model, banyak sekali hujan dan kemarau basah akan terjadi di wilayah kita,” kata peneliti klimatologi pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bandung, Erma Yulihastin, Rabu, 8 Juni 2016.

    Berdasarkan model prediksi Dynamic CCAM yang dipakai Lapan dengan memasukkan data cuaca Mei 2016, sepanjang Juni-September 2016 masih akan banyak hujan di hampir semua wilayah Indonesia.

    Pada Juli-Agustus 2016, pola hujannya agak berkurang sekitar tiga pekan di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan sedikit Jawa selatan. “Hujan di Agustus lebih banyak daripada Juli, bisa dari intensitas ataupun persistensi atau durasi hujannya,” ucap Erma.

    Faktor-faktor penyebab musim kemarau basah di Indonesia kini mulai bermunculan. Indian Ocean Dipole (IOD) atau kondisi suhu perairan Samudra Hindia menunjukkan angka negatif, yakni -0,69, di dekat Sumatera.

    Artinya, suhu menghangat dan konveksi atau proses pembentukan awan serta hujan bergerak dari Afrika ke wilayah Indonesia. “Kekuatannya berpengaruh sampai Indonesia tengah serta timur, akan banyak angin, uap, dan hujan,” ujarnya.

    Sedangkan di Samudra Pasifik yang kini terpantau masih normal memunculkan gejala La Nina. Tandanya, suhu permukaan laut di Pasifik mengalami anomali, yakni lebih dingin ketimbang suhu rata-rata.

    Adapun angin timur dari Australia yang kering dan biasanya menyebabkan Indonesia mengalami kemarau ikut berinteraksi. “Yang berperan mengontrol kondisi saat ini kelihatannya Samudra Hindia,” tutur Erma.

    Dua faktor tersebut, yang berada di lautan, kali ini, menurut Erma, bisa lebih parah dampaknya dibanding kejadian 1998. Meskipun ada perulangan waktu, misalnya 2010 dan 2013, terjadi pula kemarau basah, Erma mengatakan hal itu bukan periodesasi.

    “Bukan siklus tiga tahunan, karena di atmosfer tidak ada siklus. Fenomenanya nonlinear dan chaos,” ujar Erma.

    Namun, berdasarkan riset mutakhir tentang anomali cuaca, fenomena El Nino dan La Nina semakin kerap terjadi akibat perubahan iklim.

    ANWAR SISWADI



     

     

    Lihat Juga