Mendaki Semeru, Seorang Warga Swiss Dilaporkan Hilang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan puncak Gunung Semeru dilihat dari posko Kalimati, 12 Mei 2015. Kalimati juga merupakan tempat para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam menghilangkan lelah sejenak sebelum menuju puncak. TEMPO/Nur Septia Wilda

    Pemandangan puncak Gunung Semeru dilihat dari posko Kalimati, 12 Mei 2015. Kalimati juga merupakan tempat para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam menghilangkan lelah sejenak sebelum menuju puncak. TEMPO/Nur Septia Wilda

    TEMPO.CO, Malang - Wisatawan berkebangsaan Swiss, Lionel Du Creaux, dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur.  Pria berusia 26 tahun itu mendaki bersama rekannya, warga negara Prancis, Alice Guignard. Hingga kini, Du Creaux belum ditemukan.

    Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kennedie mengatakan Du Creaux dan Guignard berangkat dari Kota Malang pada Jumat, 3 Juni 2016. Keduanya langsung menuju Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Rehat sebentar, mereka langsung menuju rute pendakian tanpa melapor kepada petugas TNBTS di Resor Ranupani.

    “Seharusnya mereka lapor dulu untuk membeli tiket masuk, bukan asal berangkat begitu saja,” kata John pada Rabu malam, 8 Juni 2016. “Itu namanya pendaki ilegal.”

    Resor Ranupani atau pos Ranupani merupakan pos pertama dari sepuluh pos pendakian di Semeru. Pos yang terletak di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut ini sekaligus menjadi pos perizinan dan pengecekan semua pengunjung. Rombongan, bisa diwakili pemimpin regu, menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk, daftar nama pengunjung, surat keterangan sehat, dan daftar barang bawaan pengunjung.

    John menjelaskan, pada 4 Juni pukul 10.22 WIB, Du Creaux dan Guignard menjangkau Ranu Kumbolo di pos keempat dengan ketinggian 2.390 mdpl. Ranu Kumbolo kerap menjadi basecamp peristirahatan paling disukai pendaki. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Ranupani dengan waktu tempuh sekitar 180 menit atau 3 jam.

    Dari Ranu Kumbolo, keduanya menuju pos Kalimati (2.800 mdpl), yang merupakan basecamp terakhir pendakian selama kondisi vulkanik Semeru masih berstatus waspada. Keduanya melanjutkan pendakian dan tiba di daerah Watugede pada pukul 14.01 WIB. Pukul 17.47, Guignard batal ke puncak karena kelelahan. Guignard memutuskan balik ke Kalimati. Sedangkan Du Creaux tetap melanjutkan perjalanan.

    Guignard tersesat dan sampai di punggung bukit sisi kiri Arcopodo. Arcopodo merupakan basecamp kesembilan atau basecamp terakhir di ketinggian 2.900 mdpl, yang berjarak 16,4 kilometer dari Ranupani.  Ia memutuskan bertahan di situ dan menunggu selama dua hari dua malam dengan harapan akan bertemu dengan De Creaux atau pendaki maupun orang yang akan menolongnya.

    Pada Senin, 6 Juni, sekitar pukul 22.00 WIB, Guignard ditemukan Heri Sumantri dari Tim Haspala Malang yang sedang memandu tamu. Guignard berteriak meminta tolong dan didengar oleh Heri. Keesokan harinya, Guignard dipandu turun dan melapor ke petugas di Pos Ranupani.

    Menurut John, pada Rabu pagi, dibentuk tim advance yang beranggotakan 20 orang untuk menyusuri titik-titik yang diidentifikasi merupakan lokasi hilangnya Du Creaux. Anggota tim terdiri atas petugas TNBTS, porter, Sahabat Volunteer Semeru (Saver), Gimbal Alas, serta tim SAR.  John memastikan, dilakukan SAR terbuka. Pencarian Du Creaux akan diberitahukan ke kantor Kedutaan Besar Swiss, termasuk soal pendakian tanpa mengikuti prosedur.

    Hilangnya De Creaux menambah daftar nama pengunjung Gunung Semeru yang membandel karena tak mematuhi aturan batas pendakian sampai Kalimati. Sebelumnya, dua pendaki asal Cirebon, Supyadi (26 tahun) dan Zirli Gita Ayu Safitri (16 tahun) sempat hilang hampir 5 hari. Keduanya ditemukan dalam kondisi sangat lemas di puncak Bukit Tobo, Tawonsongo, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lujamang, Selasa sore, 24 Mei 2016. Selama pencarian, kegiatan pendakian dihentikan. Pendakian kembali dibuka lagi setelah Supyadi dan Gita Ayu ditemukan.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.