Taufiq Kiemas di Mata Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI, Joko Widodo menyampaikan pidatonya pada Peringatan Hari Lahirnya Pancasila dengan tema

    Presiden RI, Joko Widodo menyampaikan pidatonya pada Peringatan Hari Lahirnya Pancasila dengan tema "Pidato Bung Karno 1 Juni 1945" di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, 1 Juni 2016. Melalui surat keputusan Presiden, Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengaku mempunyai kenangan dengan sosok Taufiq Kiemas. Dalam sambutannya dalam acara haul tiga tahun meninggalnya politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, Jokowi menilai Taufiq merupakan pribadi yang ikhlas dengan segala risiko.

    Menurut Jokowi, banyak konflik individu terselesaikan berkat upaya Taufiq. "Beliau selalu menjadi jembatan kembalinya individu antarlembaga yang berkonflik," kata Jokowi di kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Jakarta, Rabu, 8 Juni 2016.

    Karakter lain yang terekam Jokowi tentang Taufiq Kiemas adalah mengenai Pancasila. Menurut dia, mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2004-2009 itu selalu mengingatkan pentingnya Pancasila.

    Dalam kesempatan itu, Jokowi juga sempat berkelakar menanggapi komentar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj tentang menteri dari kalangan NU yang datang ke acara haul. "Diam-diam saya hitung ada enam dari NU. Jadi ingat reshuffle kalau begini," kata Jokowi.

    Dalam acara haul, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri dari Kabinet Kerja. Beberapa di antaranya ialah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja pun tampak hadir.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.