Gara-gara Gempa, Warga Manado Pilih Sahur di Teras Rumah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengukuran amplitudo maksimal (amak) pada alat seismograf / ilustrasi kekuatan gempa. ANTARA FOTO

    Pengukuran amplitudo maksimal (amak) pada alat seismograf / ilustrasi kekuatan gempa. ANTARA FOTO

    TEMPO.COManado - Gempa yang mengguncang Kota Manado dan sekitarnya pada dinihari tadi membuat warga di sana memilih makan sahur di teras rumah agar bisa cepat berlari jika gempa susulan terjadi.

    "Aduh, takut juga karena gempa ini kuat sekali. Jadi saya pilih bawa makanan sahur di teras dan makan bersama, daripada nanti gempa, kitanya malah tidak sahur. Kalau di teras kan bisa cepat lari ke luar rumah kalau gempa," kata Yuli Arifin, warga Perumahan Griya Paniki, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Rabu, 8 Juni 2016.

    Menurut Yuli, warga di sekitar rumahnya juga melakukan hal yang sama. Mereka takut berada di dalam rumah karena guncangan gempa sangat terasa.

    Gempa yang terjadi di Manado dan sekitarnya, menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terjadi di sekitar 126 kilometer barat laut Kota Ternate atau 131 km timur Kota Bitung. Kekuatannya 6,6 skala Richter dengan kedalaman hiposenter 58 kilometer. Gempa itu terjadi sekitar pukul 03.15 Wita dan tidak berpotensi tsunami.

    "Sumber gempa berasal dari pertemuan lempeng Filipina dari arah timur dan lempeng Eurasia dari arah barat, sehingga terjadi penyesaran naik," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

    ISA ANSHAR JUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?