Rania, Mahasiswi Kedokteran Termuda Universtas Airlangga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rania Tasya Ifadha. Plus.google.com

    Rania Tasya Ifadha. Plus.google.com

    TEMPO.COSemarang - Rania Tasya Ifadha tercatat menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya termuda dengan usia masih 15 tahun. Ia lolos melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini.

    "Tentu saja bersyukur karena cita-cita saya memang ingin menjadi dokter,” kata Rania saat ditemui di rumahnya, Jalan Singa Timur I Nomor 29, Kota Semarang, Jumat, 3 Juni 2016.

    Rania merupakan alumnus SMAN 3 Semarang dari kelas akselerasi. Dia mengejar jalur akselerasi pendidikan yang selama ini dikenal padat mata pelajaran karena memang ingin mengejar cita-cita menjadi dokter sejak kecil. “Cita-cita memunculkan semangat," kata gadis yang sering disapa Iren itu.

    Awalnya Iren ingin masuk Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Namun, setelah berkonsultasi dengan guru yang memberikan beberapa pilihan, akhirnya ia memilih Unair.  

    Kini Iren mengikuti prosedur lanjutan berupa registrasi setelah berbagai tes dilakukan setelah lolos SNMPTN. Rania mengaku tes yang menegangkan baginya adalah kesehatan karena akan berpengaruh dalam penerimaan.

    Setelah menjadi dokter umum nanti, putri pertama pasangan Hasanudin dan Suhartini itu ingin melanjutkan ke spesialis dokter anak. Ia akan berusaha keras karena mengingat perjuangan orang tuanya yang selama ini mendukung cita-citanya. "Ingin jadi dokter spesialis anak karena ingin cepat membuat orang tua bangga," ujarnya.

    Rania mengawali sekolah dasar di SDN Supriyadi Semarang sejak usia 5 tahun. Pada usia 11 tahun, ia masuk kelas akselerasi di SMPN 2 Semarang dan melanjutkan kelas akselerasi di SMAN 3 Semarang pada usia 13 tahun.

    Berdasarkan catatan Tempo, bekas almamaternya, yakni kelas IPA Reguler SMAN 3 Semarang, sebelumnya mengalami “insiden”, yakni semua siswanya tidak lolos SNMPTN. Ia sendiri lolos karena dari kelas akselerasi yang sistemnya berbeda. 

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.