Wartawan Diusir dari Simposium Anti-PKI, Ini Kata Panitia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pelaksana Simposium Anti PKI, Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri saat konferensi pers di Balai Kartini Jakarta, 1 Juni 2016. TEMPO/Arkhe

    Ketua Pelaksana Simposium Anti PKI, Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri saat konferensi pers di Balai Kartini Jakarta, 1 Juni 2016. TEMPO/Arkhe

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua panitia Simposium Anti Partai Komunis Indonesia Letnan Jendral purnawirawan Kiki Syahnakri membantah bahwa panitia sempat mengusir seorang wartawan di tengah pelaksanaan kegiatan itu. Febriana Firdaus, wartawan media asing Rappler sempat dipaksa pergi oleh anggota organisasi masyarakat yang menjadi bagian dari panitia simposium itu, yaitu Front Pembela Islam.

    "Tidak ada, siapa yang ngusir? Bukan panitia," ujar Kiki usai simposium yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Kamis, 2 Juni 2016.

    FPI sendiri sempat mengungkapkan hal tersebut di akun Twitter resmi mereka, @DPP_FPI. "Dinilai kerap membuat berita ngawur, wartawan media asing pro komunis @febrofirdaus diusir dari Simposium Nasional," ujar akun tersebut, Kamis siang.

    Kiki menyatakan tak ada masalah dengan Febriana, terkait peliputan hari kedua simposium tersebut. "Tadi saya dialog sama dia (Febriana) kok, bicara baik-baik. Kalau itu tanya FPI saja," ujar Kiki yang mengingat penampilan Febriana. "Yang jilbab hijau tadi kan."

    Meski begitu, Kiki menyampaikan bahwa wartawan Rappler itu sempat keliru menulis kata-katanya saat memberi sambutan di awal hari kedua simposium. "Tadi ngobrol soal berita Rappler yang dia posting di Facebook, soal omongan saya tadi pagi," tutur Kiki.

    Ia menjelaskan ada kalimatnya yang berbunyi 'Saya mengimbau wartawan tak mengadu domba dan melintir. Tujuan simposium ini adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa termasuk mereka yang berseberangan dengan kami'. Dari kalimat tersebut, kata Kiki, ada bagian yang terlewat.

    "Dia tak tulis 'termasuk mereka yang..', kalimatnya jadi 'menggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang berseberangan dengan kami', ini kan salah," kata dia.

    Febriana, kata Kiki, sudah mengakui hal itu. Sehingga tak ada pembicaraan maupun perlakuan negatif yang terjadi. "Itu redaksional, dia sudah akui kok. Dan soal pengusiran tak boleh dong, semua boleh masuk," tuturnya.

    Kiki mengaku tak ingin memperpanjang masalah ini, karena pelaksanaan simposium yang telah berakhir. "FPI ya tanya FPI, acara sudah bubar kok. Tinggal urusan dia."

    Febriana sendiri sempat bereaksi lewat cuitan di akun Twitter pribadinya, @febrofirdaus. "Antek PKI? @DPP_ FPI, saya adalah orang yang mengajak orang tua saya agar sholat lima waktu. Biarlah Tuhan yang jadi saksi, tak perlu kalian."

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.