Riau Jadi Pusat Penelitian Gambut Tropis Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Operator mengoperasukan beberapa alat berat untuk pembuatan embung penampung air di lahan gambut bekas kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 9 Oktober 2015. BNPB melakukan pembangunan embung di lahan gambut yang berisiko kebakaran sebagai penampung air. ANTARA/FB Anggoro

    Operator mengoperasukan beberapa alat berat untuk pembuatan embung penampung air di lahan gambut bekas kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 9 Oktober 2015. BNPB melakukan pembangunan embung di lahan gambut yang berisiko kebakaran sebagai penampung air. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia menjadikan Riau sebagai pusat restorasi gambut tropis dunia. Badan restorasi menggandeng Pemerintah Riau beserta 11 universitas dalam negeri dan perguruan tinggi Jepang yakni  Universitas Kyoto, Universitas Hokaido, National Institutes of the Humanities (NIHU) dan Research Institute for Humamity and Nature (RIHN).

    Kepala BRG Nazir Foead menyebutkan, kerja sama ini dilakukan untuk melindungi gambut Riau yang luasnya mencapai 5,7 juta hektare. Hal itu didorong dengan program budidaya sagu Provinsi Riau sebagai tanaman asli gambut untuk menunjang perekonomian masyarakat.

    "Riau akan dijadikan contoh yang bagus restorasi gambut melalui budidaya sagu. Hal ini akan menjadikan Riau sebagai penghasil sagu terbesar di Indonesia," kata Nazir Foead, di Pekanbaru, Selasa, 31 Mei 2016.

    Menurut Nazir, keberlanjutan dan keseriusan dalam memelihara, serta melestarikan gambut Riau menjadi dasar kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dalam negeri dan Jepang itu. Perguruan tinggi dan pemerintah, ucap Nazir, harus memastikan keterlibatan masyarakat agar riset dapat membawa manfaat secara ekonomi bagi masyarakat. "Bukan hanya memilihkan gambut, tapi memanusiakan manusia sekitarnya," ujarnya.

    Para pakar restorasi dari perguruan tinggi diharapkan dapat berbagi informasi dan kajian ilmiah terkait penelitian dan kegiatan restorasi gambut. "Upaya restorasi gambut melalui perbaikan tata kelola lahan gambut, perbaikan ekologi, ekonomi dan sosial memerlukan dukungan riset memdalam," ucap Nazir.

    Kehadiran perwakilan Unversitas Hikaido dan Kyoto, menurut Nazir,  akan membantu pembangunan penelitian di Meranti dan Bengkalis, sebagai daerah yang cukup mengalami kerusakan gambut cukup parah akibat kebakaran hutan dan lahan.

    Nazir lebih lanjut menjelaskan, saat ini Riau menjadi fokus  pemulihan gambut di Indonesia. Dari 2 juta hektare target restorasi tahun 2016 ini, seluas 900 ribu hektare dilakukan di Bengkalis dan Meranti. "Mereka bukan hanya fokus untuk penelitian pembahasan kering hutan gambut, tetapi juga upaya menumbuhkan kembali kehidupan ekosistem yang ada," jelasnya.

    Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman berharap rencana aksi restorasi gambut ini dapat memulihkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan sosial ekonomi masyarakat. Kedepan, kata dia, pemulihan lahan gambut ini  akan dibarengi  penanaman sagu sehingga produksi komoditas ini dapat meningkat.  

    Tahun sebelumnya, Riau yang dikenal sebagai penghasil sagu terbesar di Indonesia, mampu memproduksi  246 ribu ton sagu per tahun. "Diharapkan setelah restorasi ini produksi sagu Riau terus meningkat," ujarnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.