Masyarakat Bisa Mempersempit Ruang Gerak Pelaku Kekerasan  

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat saat ini sudah banyak yang memiliki kepedulian tinggi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

    Masyarakat saat ini sudah banyak yang memiliki kepedulian tinggi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

    INFO NASIONAL - Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Agustina Erni  meminta masyarakat  agar bersatu mempersempit ruang gerak pelaku kekerasan seksual yang mengincar anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki. Apalagi, jumlah masyarakat yang lebih banyak dari pelaku akan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bisa mengawasi pelaku.

    “Pelaku bisa bebas karena selama ini masyarakat tidak peduli. Pelaku paling hanya ada 20 persen. Tapi kenapa jumlah yang 80 persen masyarakat tidak saling mengawasi. Padahal kalau kita awasi bersama pasti pelaku akan takut,” ujar Agustina di sela acara Puspa 2016 - Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak, Senin, 30 Mei 2016.

    Tapi Erni bersyukur masyarakat saat ini sudah banyak yang memiliki kepedulian tinggi dan langsung bergerak melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.  Banyak inisiatif sudah dilakukan kalangan bawah. Itu menunjukkan, masyarakat sudah mulai sadar dengan maraknya kasus-kasus kekerasan seksual. “Di sini lah peran pemerintah dibutuhkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat lebih luas lagi, yaitu dengan menjadikan upaya yang sudah dilakukan sebagai proyek percontohan bagi masyarakat di daerah-daerah lain,” katanya.

    Ia mencontohkan seperti apa yang dilakukan kader Ibu Neneng Muslimah di Cirebon, yang berhasil membuat RW Ramah Anak di Kelurahan Kecapi. “Ibu Neneng berhasil mencanangkan wilayahnya bebas dari kekerasan. Yang tadinya marak kekerasan dan pelecehan seksual, narkoba, dan miras, saat ini menjadi kelurahan nol kekerasan,” ujar Agustina.

    Menurut Agustina, salah satu keberhasilan Ibu Neneng adalah menggerakkan anak-anak untuk tidak ke luar rumah selepas waktu maghrib dan waktunya khusus untuk belajar. “Dengan sirene yang dibunyikan lantang  dan didengar warga, praktis tidak ada anak-anak yang berkeliaran di luar rumah.  Hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama antarwarga dan perangkat desa,” kata Agustina.

    Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) 2016 yang diselenggarakan pada 30 Mei hingga 1 Juni 2016 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta ini bertujuan untuk mempromosikan Program Unggulan Three Ends. Acara ini juga untuk menggalang dukungan lembaga masyarakat, dunia usaha, dan media agar saling membahu mempromosikan Program Unggulan Three Ends perempuan dan anak Indonesia. Di ajang PUSPA ini, 400 peserta juga akan mendapatkan wahana berbagi pengalaman dan gagasan inovatif dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Indonesia.  (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa