Di Bangkalan, Marak Penipuan Cek Rp 1,9 Miliar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi telepon selular. AP/Ng Han Guan

    Ilustrasi telepon selular. AP/Ng Han Guan

    TEMPO.CO, Bangkalan - Kepolisian Resor Bangkalan, Jawa Timur, meminta masyarakat berhati-hati bila tiba-tiba menemukan sebuah amplop di pekarangan rumahnya. Biasanya berisi satu lembar surat izin SIUP berkop Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta selembar cek Bank BTN senilai Rp 1,9 miliar. Polisi menyatakan amplop tersebut adalah penipuan.

    "Ada nomor telepon di dalamnya, jangan dihubungi, itu penipuan," kata Kepala Bagian Humas Kepolisian Resor Bangkalan Ajun Komisaris Bidarudin, Senin, 30 Mei 2016.

    Bidarudin mengaku menerima amplop serupa pada 25 Mei lalu sepulang bekerja. Namun dia tak tergoda untuk menelepon nomor telepon yang tertera dalam amplop tersebut. Dia yakin amplop tersebut salah satu modus penipuan.

    Menurut Bidarudin, ketika dia memberi tahu istrinya tentang amplop tersebut. Istri bilang banyak teman-temannya menerima amplop serupa, foto, dan nama dalam SIUP sama persis dengan yang diterima suaminya, yaitu SIUP atas nama perusahaan PT Prima Nusantara dengan Helmi Gunawan sebagai Presiden Direkturnya. SIUP tersebut ditandatangani Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta Edward Padjaitan. Adapun ceknya bertuliskan BTN Cabang Ciputat. "Ternyata banyak yang terima cek serupa," ujarnya.

    Atas cerita istrinya itulah, Bidarudin berinisiatif mengunggah foto SIUP dan cek tersebut ke laman Facebook Polres Bangkalan hari ini. Unggahan itu mendapat banyak respons dari netizen. Mayoritas mengucapkan terima kasih atas informasi tersebut.

    Ada satu akun Facebook bernama Nadhira yang memberi komentar pernah mendapat amplop serupa sepulang dari pengajian. Dia bersama keluarganya berinisiatif mendatangi Bank BTN untuk mengecek keaslian cek tersebut. "Ternyata cek itu palsu," kata Nadhira.

    Melihat kondisi ekonomi orang yang mengaku pernah menerima amplop serupa, Bidarudin menambahkan, pelaku penipuan ini menyasar masyarakat ekonomi menengah ke atas. Beruntung, hingga saat ini polisi belum pernah menerima laporan ada warga yang jadi korban penipuan dengan modus tersebut.

    "Mayoritas orang yang mengaku dapat amplop serupa, rumahnya bagus dan besar," ungkapnya.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga