Peringati 10 Tahun Lapindo, Warga Korban Lumpur Unjuk Rasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan korban lumpur Lapindo yang belum mendapat ganti rugi menggelar istighasah di atas tanggul titik 21 di Desa Siring, Porong, Sidoarjo, 28 Mei 2016. TEMPO/Nurhadi

    Puluhan korban lumpur Lapindo yang belum mendapat ganti rugi menggelar istighasah di atas tanggul titik 21 di Desa Siring, Porong, Sidoarjo, 28 Mei 2016. TEMPO/Nurhadi

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Sebanyak 30 warga korban lumpur Lapindo, yang tergabung dalam paguyuban ojek, memperingati tragedi sepuluh tahun semburan lumpur panas Lapindo, Minggu, 29 Mei 2016. Lumpur yang menenggelamkan kampung mereka tepat sepuluh tahun silam itu diperingati dengan aksi demonstrasi di tanggul titik 21, Desa Siring, Porong, Sidoarjo.

    Sebelum menyuarakan aspirasinya, mereka jalan kaki dimulai dari Taman Dwarakarta ke tanggul titik 1. Di sepanjang jalan, aksi itu didominasi laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan. Mereka membawa poster, tumpeng, dan sejumlah hasil bumi yang dulu sempat tumbuh di kampung mereka.

    Ketua Paguyuban Ojek, Achmad Haris, mengatakan aksi ini dilakukan untuk memperingati sepuluh tahun semburan lumpur Lapindo. "Aksi ini untuk mengingatkan kepada pemerintah bahwa semburan lumpur Lapindo telah menenggelamkan kampung kami dan telah menyengsarakan kami selama sepuluh tahun," katanya.

    Kesengsaraan itu, menurut dia, disimbolkan dengan warga korban lumpur lelaki didandani menjadi perempuan. "Hidupnya sudah tidak karuan. Sejak semburan lumpur muncrat, hidup mereka tidak jelas dan terkatung-katung," katanya. Selain itu, lanjut dia, perempuan menjadi pihak yang paling sengsara.

    Pada momen sepuluh tahun ini, Haris meminta pemerintah daerah dan pusat memprihatikan nasib mereka yang tiap hari hanya menggantungkan hidup dari mengojek dengan penghasilan yang pas-pasan. "Meski sebagian besar ganti rugi kami sudah lunas, hidup kami masih tetap sengsara."

    Peringatan sepuluh tahun lumpur Lapindo juga diramaikan para pelukis yang tergabung dalam Komunitas Perupa Delta. Mereka melukis on the spot di tanggul titik 21 dengan obyek lukisan kolam lumpur. Lukisan itu digoreskan dalam 15 kanvas. "Ini sebagai bentuk keprihatinan seniman terhadap korban lumpur," kata Ketua Komunitas Perupa Delta, Junarto.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.