KPK Sita Toyota Fortuner Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kepahiang, Bengkulu, yang sekaligus hakim pada Pengadilan Tipikor Bengkulu, Janner Purba tiba di gedung KPK Jakarta, 24 Mei 2016. Petugas KPK juga mengamankan barang bukti berupa dua kendaraan roda dua serta uang tunai senilai Rp 150 juta yang diduga suap dalam perkara Tipikor yang tengah ia tangani di Pengadilan Tipikor Bengkulu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kepahiang, Bengkulu, yang sekaligus hakim pada Pengadilan Tipikor Bengkulu, Janner Purba tiba di gedung KPK Jakarta, 24 Mei 2016. Petugas KPK juga mengamankan barang bukti berupa dua kendaraan roda dua serta uang tunai senilai Rp 150 juta yang diduga suap dalam perkara Tipikor yang tengah ia tangani di Pengadilan Tipikor Bengkulu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi kembali menggeledah satu tempat lagi terkait dengan operasi tangkap tangan di Pengadilan Kepahiang Bengkulu. Penyidik menggeledah rumah tersangka Badaruddin Amsori Bachsin (BAB) sebagai lokasi kesembilan kemarin malam. Badaruddin ialah panitera pengadilan Bengkulu.

    "Terkait kasus ini, hari ini penyidik menyita dua unit mobil," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Hubungan Masyarakat Yuyuk Andriati Iskak dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Mei 2016.

    Mobil yang disita, antara lain satu unit Toyota Fortuner milik Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang, Janner Purba, dan sebuah mobil Toyota Yaris milik Syafri Syafii, Kepala Bagian Keuangan RSUD M. Yunus.

    "Kedua mobil tersebut saat ini dititipkan di Polda Bengkulu," tuturnya. Penyidik juga menyita uang Rp 500 juta saat menggeledah rumah dinas tersangka JP.

    Kasus ini berawal saat KPK melakukan operasi tangkap tangan pada 23 Mei lalu. Lima orang ditangkap di beberapa lokasi.

    Kelima orang itu adalah Edi Santroni, mantan Wakil Direktur Utama dan Keuangan RSUD M. Yunus, Bengkulu, serta Syafri Syafii, mantan Kepala Bagian Keuangan Rumah Sakit. Mereka berdua diduga sebagai pemberi suap.

    Adapun yang diduga menerima suap, yaitu Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang Janner Purba dan hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri Kota Bengkulu, Toton.

    Satu lagi tersangka adalah Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu Badaruddin Amsori Bachsin alias Billy. Ia diduga mengatur administrasi proses perkara di pengadilan itu.

    Edi dan Syafri diduga menyuap Janner dan Toton untuk mempengaruhi keputusan perkara penyalahgunaan honor Dewan Pembina Rumah Sakit Umum M. Yunus, Bengkulu.

    Dalam operasi itu, KPK menyita duit Rp 150 juta dari kantong Janner. Belakangan diketahui bahwa Janner pernah menerima duit dari Edi pada 17 Mei sebanyak Rp 500 juta. Duit itu diberikan agar Janner memberi putusan bebas pada Edi dan Syafri yang menjadi terdakwa korupsi yang ditangani Janner.

    Yuyuk menambahkan, pemeriksaan saksi-saksi terkait dengan kasus ini akan dilakukan di Jakarta pekan depan.

    AHMAD FAIZ | MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.