Kisah Aiptu Mustamin, 20 Tahun Menambal Ban, Sempat Dicibir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aiptu Mustamin (57 Tahun), personel Samapta Bagian Pelayanan Polsek Ujung Pandang saat mengatur lalu lintas kendaraan dan saat jadi tukang tambal ban di  Makassar, 26 Mei 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    Aiptu Mustamin (57 Tahun), personel Samapta Bagian Pelayanan Polsek Ujung Pandang saat mengatur lalu lintas kendaraan dan saat jadi tukang tambal ban di Makassar, 26 Mei 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak hanya Brigadir Kepala Seladi yang menghebohkan publik dengan pekerjaan sampingannya sebagai pemulung sampah, cerita lain soal polisi yang hidup sederhana dan anti suap juga muncul dari Makassar. Anggota Samapta Kepolisian Sektor Ujungpandang, Sulawesi Selatan, Ajun Inspektur Satu Mustamin, memilih bekerja sebagai tukang tambal ban untuk menambah penghasilan.

    BALADA BRIPKA SELADI

    Heboh Polisi Jujur: Seladi Pilih Memulung Ketimbang Suap
    Ketua DPR Minta Bripka Seladi Tidak Meniru Briptu Norman

    Pekerjaan itu dilakoni saat rehat dari tugas dinas. "Saya jadikan pekerjaan ini sebagai hobi yang tidak membosankan," kata Mustamin saat ditemui di tempat tambal ban di Jalan Amanagappa, Makassar, Kamis, 26 Mei 2016. Lelaki 57 tahun itu mengatakan, sudah 20 tahun menyambi sebagai tukang tambal ban. Dia mengaku pekerjaan sampingan itu dilakoni untuk mengusir rasa jenuh dari pekerjaannya.

    Menurut Mustamin, pekerjaan itu tidak mengganggu tugasnya sebagai polisi karena dilakukan saat bebas tugas atau saat libur. "Saya mulai kerja sore sampai malam," ujar ayah tiga anak itu. Mustamin tidak menampik pekerjaan itu membuat sebagian keluargannya merasa malu. Tapi, dia bersyukur istrinya, Nursin Warlela, 53 tahun, dan ketiga anaknya tidak ikut mencibir pekerjaan sampingan itu.

    BACA JUGA
    Ayu Ting Ting ke Nagita-Raffi: Sok Romantis, Ntar juga Bubar
    Mau 'Membuktikan', Guru SMK Ini Perkosa Siswi di Ruang OSIS

    Mereka malah mendukung dan juga tidak merasa malu. “Memang pernah ada yang sarankan untuk hentikan pekerjaan itu," kata lelaki yang sudah 37 tahun menjadi polisi itu. Mustamin tergolong sukses membina anak-anaknya. Anak pertamanya, Muhammad Fajri, sukses menjadi polisi. Saat ini Fajri berpangkat brigadir dan menjabat sebagai Kepala Unit Intelijen di Polsek Aralle, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

    Anak kedua Mustamin bernama Faisal Widianto saat ini menjadi tenaga kerja di Jepang. Adapun anak bungsunya bernama Finarsi Mardana, hanya menjaga kios dagangan yang berada di dekat tempat tambal ban milik Mustamin. Adapun seorang anak angkatnya, Muhammad Yunus, juga menjadi anggota polisi. Yunus bertugas sebagai penyidik di Kepolisian Resor Mamasa.

    BACA JUGA
    Heboh Reklamasi: Beredar, Video Ahok Damprat Wartawan Tempo


    Video Jokowi Ledek Kaesang: Cukuran Batok, Nguncrit!

    Mustamin mengatakan, membuka usaha tambal ban bukan karena penghasilan sebagai polisi yang minim. "Daripada saya mencari penghasilan yang tidak halal, mendingan kerja begini," tuturnya. Dia menolak mengomentari adanya anggapan negatif bahwa sebagian polisi rela menerima suap untuk menambah penghasilan. "Saya dari kecil dididik untuk jujur, sabar, dan menghindari larangan Tuhan."

    Pekerjaan tambal ban itu tak membuat Mustamin terhina. Dia justru bangga karena selain sebagai polisi, dia bisa mengerjakan aktivitas menghasilkan uang pada waktu senggang. Anak Mustamin, Finarsih, mengaku tidak malu akan pekerjaan ayahnya. "Kami tidak persoalkan apa pekerjaan Bapak. Yang penting sumber pendapatannya jelas dan halal," katanya.

    ABDUL RAHMAN

    BACA JUGA
    Kata Ahok Soal Identitas Pemilik Akun Twitter @kurawa
    Video Jokowi Ledek Kaesang: Cukuran Batok, Nguncrit!


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.