Dokumen Beredar, Mantan Napi Jadi Pengurus Baru Golkar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokumen kepengurusan Partai Golkar yang baru. Isitmewa

    Dokumen kepengurusan Partai Golkar yang baru. Isitmewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokumen susunan kepengurusan Partai Golkar di bawah Ketua Umum Setya Novanto beredar di kalangan wartawan. Dalam susunan kepengurusan itu terdapat beberapa nama yang sempat tersandung kasus hukum.

    Anggota formatur Partai Golkar, Roem Kono, mengatakan dokumen susunan pengurus Golkar itu benar adanya. Namun, menurut Roem, formatur pengurus periode 2016-2019 tersebut masih dapat berubah. "Itu baru hasil kompilasi kami dari sembilan formatur," katanya di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis, 26 Mei 2016.

    Adapun nama-nama yang tertulis dalam dokumen itu, seperti Yahya Zaini, yang pernah terjerat kasus video porno dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Yahya dalam dokumen tersebut menjabat Ketua Bidang Hubungan Legislatif dan Lembaga Politik.

    Roem menjelaskan, ada pertimbangan yang membuat kader-kader Golkar masuk kepengurusan, antara lain loyalitas. "Kami tidak melihat siapa dia, semua dipandang sama," katanya.

    Roem menambahkan, Yahya Zaini telah bekerja dengan baik dan tekun menjalani kehidupan. Menurut dia, setiap orang pasti memiliki kesalahan, maka harus ditimbang antara baik dan buruknya. "Kalau baiknya banyak, itu kita nilai. Banyak kinerja mereka yang bisa diandalkan," katanya.

    Meski Yahya Zaini masuk kepengurusan, Roem yakin citra jeleknya tidak akan memengaruhi Golkar. "Insya Allah tidak," ucapnya.

    Selain Yahya Zaini, nama-nama lain yang pernah bermasalah, antara lain Nurdin Halid yang tersandung korupsi minyak goreng; Fahd A. Rafiq, mantan tahanan korupsi dana penyesuaian infrastruktur daerah, dan Sigid Haryo Wibisono yang tersangkut kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.