Ditipu, Ratusan Siswa SD Bekasi Gagal Study Tour  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi siswa Sekolah Dasar (SD). TEMPO/Pius Erlangga

    Ilustrasi siswa Sekolah Dasar (SD). TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Bekasi - Ratusan siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 3 Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, gagal berangkat study tour ke Taman Wisata Matahari Puncak, Bogor, Rabu, 25 Mei 2016. Musababnya, mereka mengaku ditipu sebuah event organizer yang diduga membawa kabur uang biaya wisata sebesar puluhan juta rupiah.

    Orang tua siswa, Rini Hastiawati, mengatakan ratusan siswa sudah berkumpul di sekolah sejak pukul 06.00 WIB untuk siap berangkat seusai ujian nasional pada pekan lalu. Namun, hingga empat jam kemudian, bus yang membawa rombongan tak juga datang menjemput. "Padahal anak saya sudah membayar lunas," ucap Rini, Rabu, 25 Mei 2016.

    Ia bersama pihak sekolah sudah mencoba menghubungi pihak event organizer. Namun, ujar dia, nomor teleponnya sudah tidak aktif. Padahal anaknya bersama ratusan teman sekolahnya sudah mempersiapkan diri dengan membawa bekal untuk di perjalanan. "Anak-anak kecewa tidak jadi berangkat," tutur Rini.

    Guru SDN Jatirasa 3, Annisa, mengatakan pihak komite sekolah telah menyerahkan sejumlah uang kepada pihak event organizer untuk menyewa bus dan sejumlah kebutuhan bagi 160 peserta selama study tour di Taman Wisata Matahari, Puncak, Bogor. "Biayanya Rp 400 ribu per peserta. Siswa mengumpulkan uang dari menabung," ucap Annisa.

    Menurut dia, rencananya, para peserta diberangkatkan menggunakan empat bus. Namun, ketika pihak komite sekolah mendatangi perusahaan event organizer tersebut, perusahaan mengaku mereka belum memesan bus. Merasa ditipu, pihaknya melaporkan kasus itu ke Kepolisian Sektor Jatiasih, Kota Bekasi, guna penyelidikan lebih lanjut.

    Kepala Polsek Jatiasih Komisaris Aslan Sulastomo berujar, pihaknya masih melakukan penyelidikan ihwal kasus tersebut. Penyidik, tutur dia, sudah mengantongi identitas pelaku berinisial F yang berkantor di Jakarta Timur. Menurut dia, kerugian akibat kasus tersebut mencapai Rp 39 juta. "Rp 36 juta diberikan melalui transfer dan Rp 3 juta dibayar tunai," ucap Aslan.

    Ia mengatakan peristiwa itu bermula ketika salah satu orang tua siswa kenal dengan teman pelaku berinisial H. Mengetahui akan ada kegiatan study tour itu, H mengenalkan orang tua siswa tersebut dengan F. Meski baru kenal, korban percaya begitu saja dengan pelaku lalu membayar Rp 39 juta sebagai uang muka. "Sisanya akan dibayar setelah berangkat, tapi pelaku malah melarikan diri," ujarnya.

    ADI WARSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.