Jawa Tengah Bakal Diserbu Jutaan Pemudik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan pemudik terjebak kemacetan saat melintasi kawasan Kluwut, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, 15 Juli 2015. Dua hari jelang Lebaran (H-2). arus mudik dari Jakarta ke Pantura Brebes-Tegal semakin meningkat. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kendaraan pemudik terjebak kemacetan saat melintasi kawasan Kluwut, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, 15 Juli 2015. Dua hari jelang Lebaran (H-2). arus mudik dari Jakarta ke Pantura Brebes-Tegal semakin meningkat. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COSemarang - Jawa Tengah bakal dibanjiri sekitar 5 juta pemudik saat Hari Raya Idul Fitri mendatang. Para pemudik itu akan masuk ke Jawa Tengah lewat darat, laut, dan udara. “Paling banyak jalur darat yang selama ini penanganannya tak mudah,” kata pakar transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, Senin, 23 Mei 2016.

    Meski arus mudik menimbulkan masalah kemacetan, karena fenomena ini menguntungkan secara ekonomi, masyarakat di daerah yang dilalui arus mudik bisa menerima kesulitan tersebut. Namun hasil kajiannya berbicara lain. Dia memprediksi efek musim mudik 2016 sulit dinikmati daerah Kabupaten Brebes yang telah punya jalan tol. “Pemudik dengan kendaraan roda empat jarang lewat Pantura. Mereka masuk jalan tol dan keluar di Tegal,” ujar Djoko.

    Efek transit pemudik yang mendorong perputaran uang justru terjadi di jalan alternatif yang saat ini mudah diakses karena kemajuan teknologi informasi lewat media sosial dan layanan provider. Kemudahan itu mendorong pemudik dengan angkutan pribadi bebas menentukan pemberangkatan dari Jakarta sesukanya.

    Apalagi hasil survei pemudik kendaraan pribadi mayoritas memilih berangkat dinihari dari Jakarta. Mereka sudah antisipasi dengan informasi jalan yang mudah diakses.

    Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah Bambang Nugroho  menyatakan tantangan melayani mudik tahun ini makin banyak. “Kami menerima 129 kilometer jalan daerah yang diserahkan provinsi yang harus kami rawat dan bangun,” tutur Bambang.

    Menurut dia, sebanyak 70 kilometer jalan yang diserahkan itu kondisinya rusak parah. Sedangkan sisanya tak jauh berbeda. Jalan itu sebelumnya hanya kapasitas untuk sumbu angkutan kurang dari 8 ton dengan lebar kurang dari 6 meter. Namun, sejak diserahkan ke provinsi, jalan tersebut harus memenuhi standar lebar dan kapasitas sesuai dengan kebutuhan angkutan antardaerah. “Sedangkan penyerahan pada bulan Februari belum kami anggarkan pada 2016,” ucap Bambang.

    Menurut dia, anggaran untuk infrastruktur jalan tahun ini sebesar Rp 2,5 triliun atau naik dua kali lipat dari tahun lalu, dengan sasaran yang hampir dilakukan adalah perawatan dan pembangunan 390 kilometer. Jalan yang dibangun itu mengarah pada lima nilai strategis yang mengutamakan akses pariwisata, Pantura, jalan-jalan penghubung Pantura Selatan, dan daerah perbatasan provinsi.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Rencana Pendapatan dari Pajak 2019 BPRD DKI Jakarta

    Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta menetapkan target pendapatan dari pajak sebesar Rp 44,18 triliun pada 2019. Berikut rincian target BPRD.