Mahasiswa Malaysia Kagum Melihat Bangunan Sejarah Surabaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Negara Grahadi, dijalan Gubernur Suryo, Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

    Gedung Negara Grahadi, dijalan Gubernur Suryo, Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Surabaya - Bus yang membawa 52 mahasiswa dari Malaysia kembali melaju setelah penumpangnya kenyang melahap makan siang khas Indonesia di daerah Kusuma Bangsa, Surabaya. Mereka adalah mahasiswa Universiti Tunku Abdul Rahman, Malaysia.

    Bersama dengan mahasiswa Universitas Kristen Petra, Surabaya, mereka menyisiri Kota Pahlawan untuk melihat bangunan kolonial yang menjadi topik utama perjalanan mereka kali ini. Rombongan telah singgah ke Gedung Grahadi dan House of Sampoerna.

    "Setelah ini, kami ke De Javasche Bank,” kata salah satu pengajar, Christian, dalam bahasa Inggris, Jumat, 20 Mei 2016.

    De Javasche Bank yang disebutnya adalah Museum Bank Indonesia. Bangunan itu merupakan salah satu bangunan tertua di Surabaya. Untuk menuju ke sana dari Jalan Kusuma Bangsa membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Mereka pun menikmati perjalanan itu dengan menengok kanan-kiri jendela sambil berkomentar tentang bangunan-bangunan di pinggir jalan.

    Sesampainya di Museum Bank Indonesia, rombongan diarahkan untuk berkumpul di lobi depan. Mereka diberi waktu 30 menit untuk melihat-lihat ornamen di museum ini. Mahasiswa pun berpencar untuk mengamati satu per satu tatanan bangunan kuno ini.
    I like the roof, so high and look very nice,” ujar salah satu mahasiswa Malaysia, Sumita Thevendran, 25 tahun.

    Sumita mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari perjalanan ini. Menurut dia, banyak hal yang dia lihat di Surabaya belum ada di Malaysia. Selain tertarik pada bangunan kolonial, Sumita mengaku tertarik dengan tata taman Kota Surabaya. Sepanjang perjalanan, dia melihat Kota Surabaya begitu tertata dengan baik. Dia mengaku begitu terinspirasi dan berharap bisa mendesain taman serupa di Malaysia.

    Mahasiswa Universitas Kristen Petra sendiri begitu hangat menyambut kedatangan mahasiswa asing itu. Mereka juga saling bertukar pikiran tentang dunia arsitektur. Deby, mahasiswa Universitas Kristen Petra, mengaku senang kota kelahirannya dikunjungi warga asing untuk belajar. “Mereka juga ramah, sama-sama ingin tahu,” tutur Deby.

    Ketika mahasiswa itu berpencar, menyisiri satu-satu ruang museum, ada satu kejadian unik. Salah satu mahasiswa tidak sengaja menutup pintu besar untuk masuk satu ruang penyimpanan. Ada magnet yang menempel di pintu itu. Jadi, kalau tertutup, pinta akan susah dibuka. Untung saja, tidak ada mahasiswa yang tertinggal di dalam. Lima mahasiswa laki-laki akhirnya berusaha menarik sekuat tenaga agar pintu itu kembali terbuka. Dulunya, kata pemandu, ruang itu adalah tempat menyimpan barang penting. Sekarang ruangan itu digunakan untuk menyimpan ornamen-ornamen bersejarah.

    Hwaaa…, akhirnya,” ucap mahasiswa yang berhasil membuka pintu itu, disusul tepukan tangan mahasiswa lain.

    Kepala Program Arsitektur Universitas Kristen Petra Eunike mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu kerja sama international bidang pendidikan antara Malaysia dan Indonesia. Tujuannya adalah kedua negara bisa saling mengenal, khususnya bagi mahasiswa. “Agar mereka bisa bekerja sama dengan mahasiswa asing,” ujar Nike.

    Setelah menelisik Museum Bank Indonesia, mahasiswa digiring ke taman depan Jembatan Merah Plaza, Surabaya. Ruang terbuka yang dikelilingi bangunan khas peninggalan kolonial menjadi alasan taman itu dipilih untuk tempat mahasiswa meng-sketch gambar. Mereka pun begitu serius menyuplik pemandangan sekitar, kemudian dituangkan pada kertas gambar.

    Selain mengunjungi Surabaya, para mahasiswa Malaysia ini akan mengunjungi Kota Yogyakarta. Mereka begitu penasaran dengan model arsitektur Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.