Soal Simposium 1965 Tandingan, Begini Reaksi Menteri Luhut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, saat coffee morning dengan sejumlah wartawan di kantor Menkopolhukam, Jakarta, 21 April 2016. Luhut menyampaikan harapannya agar Indonesia jangan mau didikte negara asing. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, saat coffee morning dengan sejumlah wartawan di kantor Menkopolhukam, Jakarta, 21 April 2016. Luhut menyampaikan harapannya agar Indonesia jangan mau didikte negara asing. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mempertanyakan maksud pihak yang mengajukan simposium tandingan sebagai reaksi atas ketidakpuasan pelaksanaan Simposium Membedah Tragedi 65' pada April 2016.

    "Saya enggak ngerti, yang ditentang apanya? Yang saat itu diundang tapi tak hadir sudah mengaku menyesal, kok," kata Luhut di depan kantornya, Rabu, 18 Mei 2016.

    Luhut mengatakan penyesalan para undangan yang tak hadir, yaitu para purnawirawan TNI, sempat ditayangkan secara langsung di salah satu episode program Indonesian Lawyers Club (ILC) di TV One. "Nonton ILC enggak? Nah, itu yang diundang nyesal tak hadir. Semua pihak diundang, kok. Pembicaranya orang-orang kredibel, seperti Pak Sintong Pandjaitan," ujarnya.

    Luhut tak mempersoalkan anggapan bahwa simposium yang dilaksanakan di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada 18-19 April 2016 tak berjalan imbang. "Katanya tak imbang, apanya? Siapa suruh tak datang, urusan dia dong."

    Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional sekaligus Ketua Panitia Pengarah Simposium Membedah Tragedi 65’ Agus Widjojo tak memusingkan hal tersebut. Simposium tandingan, menurut Agus, hal wajar.

    "Perbedaan pendapat itu wajar dan harus dihargai. Tidak bisa bilang satu kegiatan, satu cara, itu sebagai sesuatu yang paling benar," tutur Agus di kantor Lemhanas, Rabu pagi.

    Simposium tandingan diprakarsai sejumlah purnawirawan yang menganggap simposium lalu kurang mewakili pandangan TNI. Tujuannya untuk meluruskan pandangan yang meyakini bahwa TNI bersalah dan simpatisan PKI adalah korban tragedi 1945. Mereka sempat menyatakan akan menggelar kegiatan tersebut pada Juni 2016.

    YOHANES PASKALIS

    Baca juga:
    Karyawati Diperkosa & Ditusuk Gagang  Cangkul: Ini 3 Setan Pemicunya
    Karyawati Diperkosa & Dibunuh: 31 Adegan, Pelaku Sempat Bercumbu


     

     

    Lihat Juga