Alasan Ade Komarudin Mundur di Pemilihan Ketua Umum Golkar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon ketua umum Partai Golkar, Ade Komarudin alias Akom memaparkan visi misi saat kampanye terakhir jelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 13 Mei 2016. Dukungan dari Keluarga Besar Cendana disambut baik oleh ketua DPR RI tersebut. TEMPO/Johannes P. Christo

    Calon ketua umum Partai Golkar, Ade Komarudin alias Akom memaparkan visi misi saat kampanye terakhir jelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 13 Mei 2016. Dukungan dari Keluarga Besar Cendana disambut baik oleh ketua DPR RI tersebut. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ade Komarudin menjelaskan alasannya mundur sebagai calon Ketua Umum Golongan Karya setelah mendapat 173 suara dalam pemilihan pertama. "Demokrasi itu harus memperkuat persatuan," katanya di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa, 17 Mei 2016.

    Akom—sapaan Ade—berujar, demokrasi itu bukan untuk bercerai berai. Tapi, ucap dia, harus menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong-royong.

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ini membantah sudah ada pikiran mundur saat masuk pemilihan putaran kedua. Menurut dia, proses pemilihan ini mengalir dan penting untuk kebaikan semua, terutama Partai Golkar yang sedang bersatu secara rekonsiliasi.

    Kalau melanjutkan maju, ujar Akom, proses rekonsiliasi tidak akan terjadi. Alasannya, tutur dia, orang Indonesia tidak siap kalah. "Siapnya cuma menang saja," katanya."Ini kebaikan yang saya lakukan, karena saya mencintai partai ini."

    Sebelumnya, Ade menyatakan sudah berembuk dengan tim suksesnya saat mundur dari pemilihan. "Saya lebih muda daripada Novanto," ucapnya. "Masih ada kesempatan untuk saya pada masa mendatang."

    Ade juga berterima kasih kepada Partai Golkar yang menciptakan kreasi demokrasi dalam pemilihan ketua umum. Menurut dia, cara ini harus dilanjutkan. Semua peserta langsung riuh mendengar ucapan Ade.

    Setelah membacakan pengunduran diri, Ade kembali duduk ke kursinya. Namun, sebelum itu, Ade menyalami Setya.

    HUSSEIN ABRI YUSUF | BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.