Marsinah Menggugat, Panggung Anak Muda Ingat Buruh Dibunuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panggung Demokrasi Marsinah Menggugat di Yogyakarta, Sabtu 14 Mei 2016. (TEMPO/Shinta Maharani)

    Panggung Demokrasi Marsinah Menggugat di Yogyakarta, Sabtu 14 Mei 2016. (TEMPO/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Aktivis yang tergabung dalam Komite Perjuangan Perempuan Yogyakarta mengajak kalangan muda mengingat aktivis perempuan yang memperjuangkan nasib buruh, Marsinah.

    Dia dibunuh karena menuntut kenaikan upah di pabrik arloji PT Catur Surya, Jawa Timur.  Marsinah terlibat dalam pemogokan massal. Demonstrasi dan pemogokan massal itu berujung pada kematian Marsinah. Ia diculik, disiksa, dan dibunuh. Pada 8 Mei 1993 jasad Marsinah ditemukan di gubuk berdinding terbuka di pinggir sawah dekat hutan jati di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur.

    Kematiannya diduga melibatkan militer ketika rezim otoriter Orde Baru berkuasa. Selama 23 tahun berlalu kasus Marsinah tak juga rampung. "Kami menolak lupa dan mengajak kalangan muda terlibat," kata juru bicara Komite Perjuangan Perempuan Yogyakarta Pipin Jamson kepada Tempo, Sabtu, 14 Mei 2016.

    Acara bertajuk Panggung Demokrasi Marsinah Menggugat itu berlangsung di miniatur Tugu Yogyakarta. Di tengah hujan, aktivis berdiri mengenakan topeng bergambar Marsinah dan membawa poster bergambar Marsinah. Selain itu, ada pula pertunjukan dari kelompok musik. Di antaranya Sisir Tanah, Deugalih, dan Saksi Nada.Kegiatan ini berlangsung sejak petang hingga malam.

    Menurut Pipin, panggung demokrasi ini bagian dari perlawanan terhadap fasisme. Komite Perjuangan Perempuan Yogyakarta mengajak kalangan pro-demokrasi untuk bersuara melawan beragam tindakan represif negara.

    Di antaranya pembubaran diskusi dan pemutaran film di kampus maupun ruang publik. Kelompok intoleran juga mengintimidasi kalangan minoritas Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender. "Isu anti-komunis dan penangkapan aktivis buruh juga semakin masif," kata Pipin.

    Aktivis menilai ada kerja sama antara aparat negara dan pemilik modal untuk mengkriminalisasi aktivis buruh. Mereka mencatat 23 buruh, dua pengacara Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dan satu mahasiswa dikriminalisasi karena melakukan aksi penolakan Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan di Istana Negara.

    Di Jawa Timur, dua buruh divonis tiga bulan penjara dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Dua buruh itu memperjuangkan ribuan buruh outsourcing di PT Petro Kimia Gresik agar menjadi pekerja tetap.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.