Dua Poros di Munaslub Golkar, JK Sebut...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara Peresmian Penutupan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2016 di Istana Negara, Jakarta, 11 Mei 2016. Musrenbangnas bertujuan memacu pembangunan infrastruktur dan ekonomi untuk meningkatkan kesempatan kerja serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan antarwilayah. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara Peresmian Penutupan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2016 di Istana Negara, Jakarta, 11 Mei 2016. Musrenbangnas bertujuan memacu pembangunan infrastruktur dan ekonomi untuk meningkatkan kesempatan kerja serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan antarwilayah. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Figur Jusuf Kalla dan Luhut Binsar Pandjaitan disebut-sebut menjadi pemain di belakang layar perebutan kursi ketua umum pada Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golongan Karya di Bali. Kalla disebut berada di belakang pencalonan Ade Komarudin, sementara Luhut menjadi penyokong Setya Novanto. Namun Kalla membantahnya.

    "Tidak ada poros di Munaslub Golkar," kata Kalla, Jumat, 13 Mei 2016, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta. Alasannya, poros hanya akan terjadi bila calon Ketua Umum Golkar ada dua. Sementara dalam musyawarah yang bakal digelar pada 15-17 Mei mendatang di Bali tersebut, ada delapan calon ketua umum. "Ada delapan calon, bagaimana caranya ada poros," ucap Kalla.

    Kalla memang tidak secara eksplisit menyatakan mendukung salah satu calon. Namun, sebagai mantan Ketua Umum Golkar, dia mengaku mempunyai pikiran-pikiran untuk kemajuan Golkar. "Termasuk soal Golkar harus dipimpin ketua yang baik dan dapat membesarkan Golkar, saya tentu punya penilaian-penilaian tersendiri," ujar Kalla. Dia menambahkan, sebagaimana dia, tokoh Golkar yang lain tentu punya penilaian.

    Adapun Presiden Joko Widodo direncanakan membuka munaslub partai berlambang beringin ini. Ada delapan calon yang bakal memperebutkan kursi ketua umum. Mereka adalah Ade Komarudin, Setya Novanto, Priyo Budi Santoso, Azis Syamsuddin, Airlangga Hartanto, Syahrul Yasin Limpo, Indra Bambang Utoyo, dan Mahyudin.

    Berdasarkan pantauan Tempo, di antara delapan nama tersebut, Ade Komarudin adalah calon ketua umum yang teran-terangan meminta restu dan dukungan Kalla. Akon sowan ke Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Utara, pada 20 April lalu. Kedatangan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ini didampingi Ketua Komisi Keuangan DPR Ahmadi Noor Supit. "Kedatangan saya untuk meminta restu dan dukungan Pak JK dalam Munaslub Golkar," tutur Ade seusai pertemuan dengan Kalla.

    Menanggapi pencalonan Akom, Kalla mengatakan semua calon punya peluang besar, "Artinya, Ade juga peluangnya besar," kata Kalla saat itu. Dia menyanjung Akom sebagai figur yang mempunyai pengalaman yang baik untuk maju sebagai calon Ketua Umum Golkar. Apalagi salah satu syarat yang mesti dimiliki Ketua Umum Golkar adalah dapat dipercaya dan mempunyai kredibilitas yang baik. "Karena kalau Golkar mau baik, ketuanya harus punya kredibilitas, harus dipercaya, harus tidak punya masalah hukum, harus bisa membawa Golkar lebih besar," ucap Kalla.

    Sedangkan dukungan Luhut terhadap Setya Novanto mencuat setelah dia dianggap mencatut nama Presiden Jokowi dalam mendukung pencalonan Setya. Belakangan Luhut membantah mendukung pencalonan Setya. Namun dia tak membantah memiliki kedekatan dengan mantan Ketua DPR tersebut. "Kalau saya suka Setya Novanto, kan, enggak apa," ujar Luhut, Senin, 9 Mei 2016.

    AMIRULLAH | ISTMAN M.P.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.